INDOZONE.ID - Rian Fahardhi, Founder Distrik Berisik & Sekolah Tanah Air membahas mengenai makna kesuksesan dan tekanan jadi content creator di acara Indonesia Punya Kamu (IPK) yang kali ini berlangsung di Auditorium G.P.H Haryo Mataram, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis (13/11/2025).
Dalam sesi talkshow "Masa Depanmu Penting", Rian yang juga dikenal sebagai Presiden Gen Z bercerita soal perjalanan hidupnya, refleksi tentang kesuksesan, hingga pesan untuk para anak muda yang ingin meniti karier di dunia digital.
Baca juga: Dukungan PNM untuk Anak Muda di IPK 2025, Bukti Nyata Misi Pemberdayaan Berkelanjutan
Dari Sulawesi ke Jakarta
Ria membuka ceritanya dengan kisah sederhana. Ia lahir dan besar di Sulawesi, jauh dari pusat kota. Merantau ke Jakarta dengan tujuan besar, yakni untuk sukses dan bisa memahami makna hidup dan pencapaian sejati.
"Banyak teman-teman content creator itu awalnya gak sengaja jadi creator. Begitu juga aku. Jadi kalau ditanya apa yang bikin aku bisa sampai di titik ini, jawabannya bukan algoritma TikTok, tapi algoritma Tuhan," ujar Rian Fahardhi di UNS, Kamis (13/11/2025).
Menurutnya, dunia kreator memang luar biasa berkembang, tapi saat ini mengalami kejenuhan.
"Kita kelebihan creator of content, tapi kekurangan creator of meaning. Banyak yang bikin konten, tapi sedikit yang memberi makna," ungkapnya.
Dia menegaskan, content creator hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ia justru menggunakan konten sebagai sarana untuk mewujudkan mimpinya menjadi jurnalis seperti Najwa Shihab.
"Aku bangun jalanku sendiri. Aku bikin narasi dan positioning yang sesuai, sampai akhirnya bisa sepanggung dengan Mba Najwa," katanya.
Bagi Rian, kesuksesan bukan soal pencapaian, tapi tentang becoming, proses menjadi seseorang yang bermakna.
"Perjalanan hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai sesuatu, tapi bagaimana kita menjadi diri sendiri," ujarnya.
Melatih Diri Lewat Situasi yang Memaksa
Menariknya, Rian mengaku dulu adalah anak yang pemalu dan bahkan sempat divonis gagap saat SD. Namun, hal itu tak menghentikannya untuk berkembang.
"Duku aku takut ngomong di depan orang. Tapi aku sadar kalau ingin berubah, aku harus memaksa diri muncul di situasi yang bikin gak nyaman," kenangnya.
Ia mulai berani bertanya saat seminar, meski duduk di barisan belakang. Dari situ, ia belajar bahwa kemampuan berbicara bukan bakat bawaan, tapi hasil latihan terus-menerus.
Ia juga berpesan agar anak muda tak perlu meniru gaya orang lain.
"Kita gak perlu berbicara seperti Najwa Shihab atau Gita Wirjawan. Jadilah pembicara yang menemukan potensinya sendiri. Pembicara yang baik itu bukan yang meniru, tapi yang jadi dirinya sendiri," tegasnya.
Baca juga: Sosok Rian Fahardhi, Sang Presiden Gen Z yang Bakal Hadir di Your Voice Matters Semarang
Gak Harus Jadi Content Creator Kalau Gak Bikin Bahagia
Di akhir sesi, Rian menyinggung fenomena toxic positivity dan tekanan sosial di kalangan anak muda.
Banyak yang merasa harus selalu tampil produktif dan sukses di media sosial, padahal belum tentu bahagia.
"Kalau jadi content creator malah bikin kamu gak happy, gak jadi diri sendiri dan cuma ikut ikut-ikutan biar keliatan keren, lebih baik gak usah," tegasnya.
"Hari ini tekanan terbesar bukan datang dari luar, tapi dari diri kita sendiri. Kita merasa harus selalu produktif, harus tampil, harus berprestasi, padahal gak semua harus secepat itu," tambahnya.
Menurutnya, penting bagi generasi muda untuk mengikuti ritme hidupnya sendiri dan bertumbuh secara alami.
"Jangan kejar performa, tapi kejar makna. Karena kalau kita hanya fokus tampil, itu jebakan. Jangan sampai hal positif justru jadi sumber stres baru," tandas Rian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan