INDOZONE.ID - Banyak orang yang baru sadar dan hijrah di usia dewasa sering dihantui rasa bersalah soal masa lalu.
Salah satu yang paling bikin kepikiran adalah hutang puasa Ramadan yang dulu ditinggalkan begitu saja, entah karena bandel, lalai, atau belum paham agama.
Masalahnya makin rumit ketika jumlah puasanya sudah menumpuk bertahun-tahun, sementara kondisi ekonomi juga pas-pasan. Harus qadha, iya. Tapi fidyahnya bagaimana kalau tidak mampu?
Pertanyaan ini pernah disampaikan langsung kepada Buya Yahya dalam kajian yang tayang di YouTube @Al-Bahjah TV.
Jawabannya cukup menenangkan dan terasa sangat manusiawi, terutama buat mereka yang benar-benar ingin berubah dan memperbaiki diri. Yuk simak!
Baca juga: Cara Bayar Hutang Salat dan Puasa Orang Tua yang Sudah Meninggal, Ini Penjelasan Lengkapnya!
Tobat Itu Awal yang Harus Disyukuri
Buya Yahya mengawali penjelasannya dengan satu pesan penting yaitu jangan kecil hati. Orang yang benar-benar bertaubat dari dosanya, posisinya di sisi Allah seperti orang yang tidak punya dosa sama sekali.
Masa lalu yang kelam tidak perlu terus dijadikan beban, apalagi sampai membuat seseorang putus asa.
Kesadaran untuk hijrah, menyesali perbuatan lama, dan berniat memperbaiki diri justru adalah tanda bahwa Allah masih sayang.
Jadi yang pertama kali harus dilakukan adalah bersyukur, bukan sibuk menghukum diri sendiri dengan rasa bersalah berlebihan.
Puasa yang Ditinggalkan Tetap Wajib Diganti
Meski Allah Maha Pengampun, urusan kewajiban ibadah tetap harus dibereskan. Buya Yahya menegaskan, puasa Ramadhan yang ditinggalkan dengan sengaja di masa lalu tetap wajib diqadha, selama saat itu seseorang sudah baligh.
Artinya, kalau dulu meninggalkan puasa karena kenakalan remaja, malas, atau merasa kuat-kuat saja, maka tidak ada jalan pintas selain menggantinya dengan puasa di hari lain.
Fidyah bukan pengganti utama bagi orang yang sehat dan mampu berpuasa. Fidyah itu sifatnya tambahan, bukan penggugur kewajiban qadha.
Menghitung Hutang Puasa Secara Realistis
Salah satu masalah terbesar orang yang baru hijrah adalah panik melihat jumlah hutang puasanya.
Ada yang merasa sudah meninggalkan puasa 10 tahun, 15 tahun, bahkan lebih. Buya Yahya menyarankan untuk berhenti panik dan mulai bersikap realistis.
Hitung secara kasar berapa tahun puasa yang ditinggalkan. Tidak harus super detail, yang penting mendekati.
Dari situ, niatkan dalam hati bahwa semua puasa itu akan diganti, meski pelan-pelan. Islam tidak pernah memerintahkan sesuatu di luar kemampuan manusia.
Mencicil Qadha Puasa dengan Cara yang Ringan
Menurut Buya Yahya, qadha puasa tidak harus langsung tuntas dalam satu tahun. Boleh dicicil sesuai kemampuan.
Misalnya, dalam satu bulan mengambil tiga atau empat hari puasa qadha. Atau cara yang lebih ringan, manfaatkan puasa Senin dan Kamis.
Secara lahiriah mungkin terlihat seperti puasa sunnah, tapi niat di dalam hati adalah qadha puasa Ramadan.
Baca juga: Mengapa Hilal Ramadan Sangat Penting? Simak Penjelasannya
Dengan cara ini, tubuh dan mental bisa lebih terbiasa, tidak kaget, dan ibadah pun terasa lebih konsisten.
Nah yang penting bukan cepatnya, tapi istiqamahnya. Sedikit tapi rutin jauh lebih baik daripada semangat besar di awal lalu berhenti di tengah jalan.
Aturan Fidyah dalam Mazhab Syafi’i
Buya Yahya juga menjelaskan posisi fidyah dalam Mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia. Fidyah diwajibkan ketika seseorang punya hutang puasa, diberi kesempatan sehat selama satu tahun, tapi sengaja menundanya sampai masuk Ramadhan berikutnya.
Dalam kondisi ini, kewajibannya menjadi dua yaitu qadha puasa dan membayar fidyah berupa satu mud bahan makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Namun, aturan ini tetap mempertimbangkan kemampuan orang tersebut.
Jika Tidak Mampu Membayar Fidyah, Bagaimana?
Nah, di sinilah jawaban Buya Yahya terasa sangat menenangkan. Bagi orang yang tergolong fakir atau benar-benar tidak mampu secara ekonomi, fidyah tidak perlu dijadikan beban pikiran utama.
Pesan Buya Yahya jelas yaitu fokus saja dulu pada qadha puasa. Jangan sampai karena tidak mampu fidyah, seseorang malah tidak jadi mengqadha puasa sama sekali. Itu justru keliru dan merugikan diri sendiri.
Islam adalah agama yang sangat realistis. Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan. Jika hari ini belum mampu membayar fidyah, maka tidak berdosa selama memang tidak punya harta untuk itu.
Fidyah Bisa Dibayar Kapan?
Buya Yahya menyarankan agar fidyah diniatkan sebagai tanggungan yang akan dibayar ketika Allah memberikan kelapangan rezeki. Jadi, tidak perlu stres, apalagi sampai merasa hijrahnya tidak diterima.
Ketika suatu hari kondisi ekonomi membaik, barulah fidyah itu ditunaikan. Untuk sekarang, yang paling utama adalah menjaga hubungan dengan Allah, memperbaiki ibadah, dan konsisten mencicil hutang puasa.
Baca juga: 3 Amalan Bulan Syaban: Persiapan Menuju Ramadan Biar Makin Berkah
Buya Yahya mengingatkan bahwa hijrah bukan berarti langsung jadi sempurna. Hijrah adalah proses panjang yang dijalani pelan-pelan, dengan niat yang lurus dan usaha yang terus berjalan.
Jangan biarkan masa lalu menghentikan langkah hari ini. Mulailah dari yang bisa dilakukan seperti niat yang tulus, qadha puasa semampunya, dan doa agar Allah memudahkan jalan ke depan.
Semoga siapa pun yang sedang berjuang melunasi hutang puasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Karena setiap langkah kecil menuju Allah, nilainya sangat besar di sisi-Nya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube