INDOZONE.ID - Dalam penelitian, memilih sampel yang tepat sangat penting agar data yang diperoleh akurat dan relevan.
Salah satu teknik yang populer adalah Purposive Sampling, di mana sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu.
Metode ini berguna ketika peneliti ingin mendapatkan informasi dari responden yang dianggap paling memahami terkait penelitian. Dengan cara ini, penelitian menjadi lebih fokus dan efisien.
Di artikel ini, Indozone akan membahas pengertian, tujuan, teknik, dan contoh Purposive Sampling, agar kamu memahami bagaimana dan kapan metode ini digunakan dalam penelitian.
Pengertian Purposive Sampling
Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel non-probabilitas, di mana peneliti menentukan subjek penelitian berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu yang dianggap paling relevan dengan tujuan penelitian.
Dalam metode ini, pemilihan sampel tidak dilakukan secara acak, melainkan secara sengaja oleh peneliti.
Sebab, subjek tersebut memiliki informasi atau karakteristik khusus yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan penelitian secara mendalam.
Baca juga: Implementasi Adalah: Pengertian, Tujuan, Tahapan, dan Contohnya
Tujuan Purposive Sampling
Tujuan utama penggunaan Purposive Sampling adalah:
1. Menjamin Kualitas Informasi
Peneliti dapat memilih responden yang benar-benar ahli atau memiliki pengalaman langsung, sehingga data yang diperoleh jauh lebih mendalam dan berkualitas.
2. Efisiensi Waktu dan Biaya
Fokus pada kelompok kecil yang relevan membuat peneliti tidak perlu membuang energi untuk meneliti seluruh populasi yang belum tentu memahami topik bahasan.
3. Kesesuaian dengan Tujuan Spesifik
Memastikan sampel yang diambil selaras dengan kriteria khusus dalam penelitian yang tidak bisa didapatkan melalui pengambilan sampel acak.
Teknik Purposive Sampling
Ada beberapa teknik dalam Purposive Sampling antara lain:
1. Homogeneous Sampling
Fokus pada satu kelompok yang memiliki karakteristik serupa (misalnya, hanya mewawancarai ibu rumah tangga dengan satu anak), agar bisa menggali fenomena secara mendalam pada kelompok tersebut.
2. Extreme or Deviant Case Sampling
Mengambil sampel dari kasus yang paling ekstrem atau tidak biasa (misalnya, meneliti siswa paling cerdas dan siswa yang paling tertinggal untuk memahami faktor motivasi).
3. Maximum Variation (Variasi Heterogen)
Memilih responden dengan karakter berbeda-beda agar mendapatkan pandangan yang beragam tentang fenomena yang diteliti.
4. Expert Sampling
Teknik yang khusus mengambil sampel dari individu yang memiliki keahlian atau kepakaran tinggi di bidang tertentu (misalnya, profesor atau praktisi senior).
5. Critical Case (Kasus Kritis)
Memilih satu kasus yang dianggap paling penting atau krusial, dengan asumsi, "jika ini terjadi di sini, maka akan terjadi di mana saja."
6. Typical Case (Kasus Umum)
Memilih responden yang mewakili kondisi rata-rata dari populasi, untuk mendapatkan gambaran umum yang realistis.
Contoh Purposive Sampling
Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan purposive sampling dalam berbagai skenario penelitian:
1. Penelitian Perilaku Belanja Online
Responden dipilih pelanggan aktif yang pernah membeli barang online minimal 5 kali dalam 6 bulan terakhir, agar informasi yang dikumpulkan sesuai dengan topik penelitian.
2. Penelitian Dampak Program Pelatihan Karyawan
Responden dipilih karyawan yang telah mengikuti pelatihan lebih dari satu kali, karena mereka memiliki pengalaman langsung dan bisa memberikan insight mendalam.
3. Penelitian Kepuasan Guru terhadap Kurikulum Baru
Peneliti memilih guru yang sudah mengajar minimal 5 tahun, karena mereka dianggap paling memahami kurikulum dan bisa memberikan insight mendalam.
Baca juga: Teks Anekdot: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, Tujuan, dan Contoh Lengkap
Purposive Sampling adalah teknik pemilihan sampel secara sesuai kriteria tertentu, agar penelitian lebih fokus dan data yang diperoleh relevan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia