Senin, 16 MEI 2022 • 13:16 WIB

Sosok Ardian Hafidz, Anak Kuli Bangunan yang Lulus di 7 Kampus Dunia, Ingin Jadi Geolog

Author

Ardian Hafidz dipinang 7 kampus ternama dunia (Eksani/IDZ Creators)

Sosok-sosok siswa berprestasi di Indonesia yang mampu menembus kampus-kampus top dunia seolah tak ada habisnya.

Baru saja kemarin kita berkenalan dengan Kamila Aisya Farisaputri (siswi MAN 4 Jakarta Selatan) dan Muhammad Fawwaz Farhan Farabi (siswa MAN Insan Cendikia Serpong), kali ini muncul nama Ardian Hafidz Annafi (18) dari Boyolali yang tak kalah mentereng prestasinya.

Hafidz, begitu ia biasa disapa, adalah siswa SMA Pradita Dirgantara, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Prestasinya tak hanya mengharumkan nama sekolahnya dan Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali, tempat ia tinggal; tetapi juga Indonesia.

Yang membuat publik tambah salut, Hafidz bukanlah anak yang lahir dan besar dari keluarga kaya atau mapan secara finansial. Latar belakang ekonomi orang tuanya hanya "pas-pasan". Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya menjalankan bisnis penatu (laundry) kecil-kecilan di rumah mereka.

Remaja kelahiran 20 Juni 2004 itu dinyatakan lulus di 7 kampus top dunia yang berada di Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Tujuh kampus tersebut adalah University of Toronto, University of British Columbia, The University of Western Australia, Wageningen University, University of Otago, Curtin University, dan Victoria University of Wellington.

Selain itu, di dalam negeri, ia juga berhasil menempus beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Semarang dan Yogyakarta.

Cita-Cita Jadi Geolog

Dari tujuh kampus yang berhasil ditembusnya itu, Hafidz pada akhirnya menjatuhkan pilihan di University of British Columbia, Kanada.

Itu karena ia ingin menggapai cita-citanya, yakni menjadi seorang geolog (ahli geologi)

"Soalnya reputasinya di bidang geologi itu paling baik daripada kampus-kampus lain, meskipun secara kampusnya rangkingnya lebih rendah daripada University of Toronto, tapi per subject di bidang geologinya peringkatnya lebih tinggi dari pada kampus lainnya," ujarnya saat diwawancari oleh Tim IDZ Creators melalui sambungan video call, Minggu (15/5/2022).

"Saya ingin bercita cita menjadi ahli geologi. Nanti bisa meneliti kondisi kebumian yang ada di indonesia,” sambungnya, tersipu malu.

Sang ibunda, Yuni Puji Astuti (43 tahun), tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya saat mendengar anaknya lulus di luar negeri.

“Harapannya nanti Hafidz bisa mengangkat derajat orang tuanya, mengangkat sekolahnya dulu, bahkan juga mengangkat nama Boyolali dan bangsa Indonesia,” ujar Yuni.

Akrab dengan Buku Sejak Kecil 

Ayah dan ibu Hafidz saat disambangi di kediamannya. (Eksani/IDZ Creators)

Sementara sang ayah, Mardiyono (48), mengisahkan masa kecil Hafidz yang memang sudah akrab dengan buku dengan kanak-kanak.

"Dia memang lebih senang membaca ketimbang bermain dengan anak seumurannya," kata sang ayah.

Hafidz menamatkan pendidikan formal di SDN 2 Nepen, lalu SMPN 1 Boyolali, sebelum masuk sekolah asrama SMA Pradita Dirgantara milik TNI AU. Sekolah ini mirip seperti SMA Taruna Nusantara di Magelang milik TNI AD. 

Rencananya, Hafidz akan berangkat ke Kanada pada Agustus mendatang.

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU