Kalau di sebuah desa ada pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), pasti akan berdampak positif pada lingkungan sekitar.
Seperti yang dilakukan Tati Komariyah (60), warga Dukuh Puton, Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten, Jawa Tengah ini.
Sudah belasan tahun ia menggeluti usaha pembuatan kerupuk dan rambak. Dalam sehari, ia bisa memproduksi 3 kuintal rambak dan kerupuk. Keren ya?
Membantu ekonomi emak-emak di Klaten
Yang lebih keren lagi, di antara 14 karyawannya, 10 orang adalah pekerja emak-emak. Dengan begitu, emak-emak di sekitar sentra pembuatan kerupuk dan rambak enggak ada yang nganggur.
Dalam sehari, ada yang nerima upah Rp40 ribu. Itu bagi yang kerjanya full. Namun yang kerjanya hanya setengah hari, upahnya Rp20 ribu.
Para emak-emak mengaku senang kerja di sini. Bekerja sambil bercanda, hati gembira, pulang dapat cuan! Begitu prinsip emak-emak.
"Saya sudah 4 tahun kerja di sini. Upahnya bisa untuk membiayai sekolah anak-anak," kata Tin Sutini (60).
Setiap hari, ia dan tetangganya berangkat kerja jam 7.30 serta pulang jam 16.00.
Tugas ibu berputra 5 orang ini adalah merapikan serta menjemur kerupuk rambak.
Pekerja lain, Sri Rejeki (65), mengaku sangat senang dengan keberadaan UKM kerupuk rambak yang dikelola Tati ini.
Dengan bekerja di sini, sebagai single parents, ia merasa sangat terbantu.
Sri Rejeki mengisahkan, ia ditinggal suaminya karena meninggal, saat anak semata wayangnya masih duduk di bangku SD.
Beruntung ada UKM kerupuk rambak ini, sehingga ia bisa ikut bekerja di sini. Upahnya bisa untuk menambah uang saku anaknya yang kuliah.
"Alhamdulillah saya sangat beruntung bisa kerja di sini. Di rumah juga nganggur mau ngapain. Upahnya bisa untuk nambah uang saku anak saya," kata Sri Rejeki, yang tugasnya membuat kerupuk bundar.
Jeli membidik pasar
Semula, Tati bersama suaminya, Idit, yang merintis usaha ini. Uniknya, keduanya bukan warga Klaten. Mereka warga asli Ciamis, Jawa Barat dan sengaja membuka usaha di Klaten. Kenapa enggak di Ciamis saja Bu?
"Di Ciamis usaha per-kerupukan kurang laku. Di sana kan makannya lalapan. Kalau di sini, hampir semua harus makan pakai kerupuk atau rambak," begitu penjelasan Tati.
Tati bersama suaminya waktu itu (kini sudah almarhum), lalu membuka usaha di Desa Kadirejo, Klaten, pada 2009.
Awalnya sedikit-sedikit dulu produksinya, hanya 10 kilogram, 20 kilogram tepung tapioka.
"Karena waktu itu belum mampu membayar karyawan. Suami saya pensiunan guru. Semua kami kerjakan sendiri hanya bertiga saja," ujar Tati.
Seiring berjalannya waktu, usaha Tati dan Idit berkembang serta mampu membayar karyawan.
Namun nasib baik belum berpihak pada mereka. Tati pernah mengalami kenaikan harga minyak tanah (masa transisi mau beralih ke gas elpiji waktu itu). Karena naiknya tinggi sekali, akhirnya usaha tersebut kolaps. Tati dan Idit kembali lagi ke Ciamis.
Namun beberapa tahun kemudian usaha kerupuk Tati bangkit lagi dibantu anak-anaknya. Namun usahanya pindah ke Desa Candirejo sampai sekarang.
Tati mengaku rumah untuk usaha ini masih mengontrak. Karena sering berinteraksi dengan warga sekitar, salah satu putranya ada yang menikah dengan gadis sebelah.
Sehingga saat ini sudah ada generasi penerus yang berdarah Klaten, meskipun cucunya masih kecil.
Tati mengakui, dalam menjalankan usaha pasti ada suka dukanya. Saat minyak goreng mahal dan langka beberapa waktu lalu, ia harus antre kalang kabut. Harga harus ia naikkan agar roda perekonomian berputar. Yang semula Rp19 ribu per kilogram, naik menjadi Rp23 ribu.
Kini ia dihantam lagi dengan dampak kenaikan harga BBM. Semua harga bumbu dan gas naik. Namun harga minyak goreng belum ada kenaikan.
Bahan yang ia butuhkan semua mengalami kenaikan. Yaitu tepung tapioka per-sak-nya naik antara Rp1000 sampai Rp2000, gas elpiji, bawang putih, penyedap, terasi, garam, semua naik. Pengeluaran tambahan pun jadi membengkak.
"Untuk bumbu dan lain-lain sekali produksi pengeluaran saya biasanya Rp200 ribu kini membengkak jadi Rp300 ribu. Meskipun begitu, saya tidak menaikkan harga jual, biarin, enggak apa-apa," kata Tati.
Salah satu pelanggan setia, Idawati (55) mengaku setiap hari membeli kerupuk rambak di sini sebanyak 2 plastik atau 4 kilogram.
"Rambak dan kerupuk dari sini saya kemas lagi seribuan, lalu saya setorkan ke hik-hik dan warung. Kalau dijual ke rumah-rumah, saya kemas Rp5 ribu,” ujar Idawati.
Dua kilogram seharga Rp46 ribu ia jual ecer lagi bisa laku Rp70 ribu.
"UKM ini memberi rejeki kepada wong cilik seperti saya ini, Alhamdulillah. Di sini rasanya enak, murah, dan selalu baru terus nggorengnya,'' puji Idawati sambil mengacungkan jempol.
Kerupuk rambak ini cocok untuk teman menikmati mie ayam, bakso, soto, dan lain-lain. Orang Jawa Tengah, khususnya Klaten, kalau makan tanpa kriuk-kriuk, rasanya kurang mantab!
Nah, ini termasuk salah satu gaya hidup!
Artikel menarik lainnya:
-
Fakta Berat, Kota Seribu Jendela yang Penuh Toleransi, Keindahannya Memikat Abis!
-
5 Alasan Wajib Nonton Drakor 'Narco-Saints', Salah Satunya Endingnya Bikin Geleng Kepala
-
Cerita WNI Napak Tilas ke Lokasi Syuting CLOY di Swiss, Terpukau Sama Pemandangannya
-
Berawal dari Kedai Kecil 94 Tahun Silam, Restoran Bakso Ini Sekarang Punya 100 Cabang!
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: