Senin, 07 MARET 2022 • 15:10 WIB

Jadi 'Sempurna' Tak Selalu Menyenangkan, Ini Dampak Negatif Sifat Perfeksionis bagi Mental

Author

Ilustrasi depresi (Unsplash/gawrav)

Memiliki kehidupan yang serba sempurna pasti menjadi goals setiap orang. Namun, terobsesi menjadi pribadi yang sempurna juga bukanlah hal yang baik. Ada sederet dampak negatif yang mengancam.

Ya, orang-orang yang selalu berusaha terlihat sempurna tau memiliki sifat perfeksionis sering kali mendapat banyak tekanan. Mereka dihantui perasaan takut dan cemas jika tidak jadi yang terbaik.

Mengutip dari Mayo Clinic, perfeksionis sendiri merupakan sifat di mana seorang menuntut dirinya menjadi pribadi yang sempurna. Orang yang perfeksionis selalu memperhatikan sesuatu secara detail dan rinci.

Sayangnya ini tak melulu mendatangkan kebaikan kepada mereka. Mereka justru lebih akan mudah mengalami stres manakala yang dilakukan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Baca juga: Waspada! 4 Gangguan Jiwa Ini Bisa Muncul Akibat Kesepian

Akibat sifat perfeksionis yang dimiliki justru bisa merusak kesehatan mental. Nah, berikut sederet dampak negatif dari sikap perfeksionis yang tak terkendali.

1. Cemas berlebihan

Ilustrasi cemas (Unsplash/nicoletaionescu)

Dilansir dari Very Well Mind, seorang yang perfeksionis cenderung memiliki kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Perasaan tersebut muncul saat mereka ingin mengerjakan sesuatu.

Mereka khawatir hasil yang dikerjakan, tidak sesuai dengan ekspektasi. Akibatnya mereka kerap menjadi pribadi yang penuh keraguan.

2. Takut mencoba hal baru

Ilustrasi ketakutan (Unsplash/nicoletaionescu)

Orang yang memiliki sifat perfeksionis juga cenderung takut untuk keluar dari zona nyaman. Mereka tidak berani mencoba hal baru karena khawatir melakukan kesalahan.

Padahal keluar dari zona nyaman justru sebuah hal yang sangat penting. Sebab dengan begitu kita bisa berkembang dan meningkatkan skill.

3. Sulit percaya kepada orang lain

Ilustrasi penuh tekanan (Unsplash/visionchina)

Jika ada sesuatu yang harus dikerjakan bersama, seseorang yang perfeksionis cenderung ingin mengerjakan semuanya sendirian. Hal itu dikarenakan mereka tidak percaya kepada kemampuan orang lain.

Selain membebani diri sendiri, hal ini juga akan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Akibatnya mereka tidak bisa bekerja sama dengan tim.

4. Sulit menerima kritik dari orang lain

Ilustrasi stres (Unsplash/nicoletaionescu)

Seorang yang perfeksionis selalu merasa bahwa dirinya benar dan tidak mau menerima kritik dari orang lain. Jika ini terjadi di dunia kerja, akan sangat sulit untuk si perfeksionis bisa mengevaluasi dirinya ketika ia melakukan kesalahan.

Ia akan selalu terperangkap dalam keyakinan bahwa dirinya ‘sempurna.’ Akibatnya hidupnya akan stagnan di level yang itu-itu saja.

5. Gangguan kejiwaan

Ilustrasi stres berat (Unsplash/visionchina)

Dari semua yang sudah disebutkan sebelumnya, pada akhirnya si perfeksionis akan merasa terganggu dan menjauh dari lingkungannya.

Apalagi ketika ada sesuatu yang menjadi target tidak terwujudkan, dan tidak terealisasikan. Ini akan sangat buruk karena si perfeksionis akan membebani dirinya sendiri, merasa cemas, frustasi, bisa berujung pada depresi. Jika sudah begini, kesehatan mental mereka sudah sangat terancam.

Itu mengapa menjadi ‘sempurna’ tak sepenuhnya menyenangkan. Tak mengapa jika sesekali kita membuat kesalahan.

Kesalahan akan membuat kita sadar untuk senantiasa memperbaiki dan mengembangkan kualitas diri. Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan pelan-pelan belajar. 
 

Artikel Menarik Lainnya

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU