INDOZONE.ID - Laporan terbaru dari klinik Médecins Sans Frontières (MSF) mengungkapkan bahwa angka malnutrisi parah pada anak-anak di bawah 5 tahun meningkat 3 kali lipat dalam dua minggu terakhir.
Kondisi ini mencerminkan memburuknya krisis pangan yang terus melanda wilayah tersebut akibat konflik dan blokade berkepanjangan.
WHO melaporkan bahwa blokade bantuan kemanusiaan yang mulai diberlakukan Israel sejak 2 Maret 2025 telah secara signifikan menghambat distribusi berbagai bantuan vital ke Gaza, salah satu diantaranya adalah pasokan pangan.
Komunitas bantuan internasional memperingatkan bahwa krisis pangan di Gaza sudah berada di ambang yang sangat mengkhawatirkan, sedangkan Israel hanya mengizinkan bantuan masuk dalam jumlah yang terbatas dan tidak memadai.
Baca juga: Kisah Marimar Quiroa, Melawan Standar Kecantikan dengan Kelainan yang Merusak Wajahnya
Menteri Kesehatan Gaza melaporkan bahwa terdapat 9 korban jiwa baru dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi, di mana jumlah ini menyumbang total kematian akibat kelaparan dan malnutrisi menjadi 122 orang, dimana 83 diantaranya adalah anak-anak.
MSF juga melaporkan secara statistik bahwa 1 dari 4 anak-anak dan ibu hamil atau menyusui yang pekan lalu mereka periksa mengalami malnutrisi. Sementara itu di klinik Gaza City, jumlah pasien yang membutuhkan perawatan gizi meningkat sebanyak 4 kali lipat sejak bulan Mei lalu.
“Situasi ini benar-benar di luar dugaan. Sepanjang karir saya sebagai dokter, saya tidak pernah menyangka hal semacam ini bisa terjadi,” ucap Dr. Naji al-Qirashali, seorang dokter kandungan di Gaza.
Qirashali juga menambahkan bahwa sekitar 50% dari ratusan ibu hamil yang ia tangani setiap hari mengalami malnutrisi akut. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa ada peningkatan signifikan kasus keguguran ibu hamil karena kesulitan mendapatkan makanan.
Baca juga: Meninjau Efek Diet Semangka bagi Tubuh, Sehat atau Berbahaya?
Bayi yang berhasil lahir pun seringkali memiliki berat badan tidak normal (sangat rendah dari ukuran normal) , lahir prematur, atau mengalami kelainan fisik karena malnutrisi sang ibu.
Situasi krisis kemanusiaan di Gaza turut memicu berbagai respons dari komunitas internasional, termasuk kecaman terhadap blokade dan seruan untuk mempercepat distribusi bantuan kemanusiaan.
Walaupun begitu, pemerintah Israel membantah bertanggung jawab atas krisis kelaparan ini. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut tuduhan tersebut sebagai “kampanye fitnah dari pihak asing yang disengaja untuk mencemarkan nama baik Israel”.
Sementara itu, pemerintah Israel justru melemparkan tuduhan ke United Nations (UN) atas keterlambatannya dalam mendistribusikan bantuan ke Gaza.
UN merespons dengan menyatakan bahwa mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendistribusikan bantuan dibawah pembatasan ketat yang diberlakukan Israel sehingga UN tidak dapat menggunakan lebih dari 400 titik distribusi bantuan di seluruh Gaza.
Di sisi lain, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman dalam pernyataan bersama mendesak Israel untuk mencabut pembatasan terhadap bantuankemanusiaan ke dalam wilayah Gaza.
Mereka juga menyebut krisis kemanusiaan di Gaza sebagai “bencana yang harus segera diakhiri.” Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi mengumumkan bahwa negaranya akan mengakui Negara Palestina pada Sidang Umum PBB di bulan September yang akan datang.
Keir Starmer, Menteri Inggris juga telah mendapat tekanan lebih dari 100 anggota parlemen untuk melakukan hal sama. Menanggapi hal ini, Presiden Amerika Serikat malah menyebut langkah Macron “tidak ada gunanya,”.
Ia juga menyalahkan Hamas atas kegagalan negosiasi damai di Qatar lalu dan mengatakan bahwa pemimpin Hamas “akan diburu.”
Menghadapi tekanan dari berbagai pihak, Militer Israel mengumumkan akan mengizinkan Yordania dan Uni Emirat arab untuk menerjunkan bantuan dari udara ke Gaza.
Namun, banyak pihak mengecam metode ini karena dinilai tidak efektif: mahal dan jumlah bantuannya tidak akan mencukupi kebutuhan.
Pejabat Hamas menanggapi hal ini dengan menyebut penerjunan bantuan dari udara itu hanyalah “pencitraan politik belaka” dan menegaskan bahwa yang dibutuhkan Gaza adalah koridor bantuan yang terbuka luas.
Lonjakan kasus malnutrisi di Gaza menjadi tanda memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Di tengah terbatasnya akses ke bantuan, komunitas internasional didesak untuk mendorong solusi efektif yang dapat menjamin keselamatan dan memenuhi kebutuhan dasar warga sipil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera