Hiperpigmentasi Masih Jadi Tantangan Perawatan Kulit, Pakar Soroti Pentingnya Pendekatan Menyeluruh
INDOZONE.ID - Hiperpigmentasi masih menjadi salah satu masalah kulit yang paling sering ditemui dalam dunia kecantikan.
Kondisi seperti melasma, bekas peradangan kulit, hingga warna kulit tidak merata kerap menjadi keluhan pasien karena dapat memengaruhi penampilan sekaligus kepercayaan diri.
Baca juga: Perubahan Hormon saat Pubertas Rentan Picu Masalah Kulit, Ini 7 Langkah Perawatan Tubuh Remaja
Masalah ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam sesi Inspire Session pada ajang Aesthetic Medical Updates & Scientific Exhibition (AMUSE) 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, Jumat (12/6/2026).
Dalam sesi bertajuk Winning the Battle vs Hyperpigmentation: A Synergistic Approach, dr. Ruri Diah Pamela, Sp.DVE, FINSDV membagikan pandangannya mengenai penanganan hiperpigmentasi pada kulit, khususnya kulit masyarakat Asia.
Menurut dr. Ruri, hiperpigmentasi dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan sinar ultraviolet, perubahan hormon, proses peradangan, faktor genetik, hingga pengaruh lingkungan dan gaya hidup. Karena penyebabnya beragam, penanganannya juga tidak bisa disamakan untuk setiap pasien.
Baca juga: Unik! Jepang Bikin Smart Bra yang Bisa Deteksi Cinta Sejati
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada kemampuan mengurangi noda yang terlihat di permukaan kulit, tetapi juga pada pemahaman terhadap kondisi kulit secara menyeluruh serta pemilihan terapi yang sesuai.
“Lorient Element dikembangkan dengan mengadopsi prinsip 500 Dalton Rule, yang memungkinkan bahan aktifnya menembus lapisan kulit secara lebih efektif. Dengan penetrasi yang lebih optimal, Lorient Element membantu memaksimalkan penghantaran bahan aktif ke area target, sehingga mendukung hasil perbaikan pigmentasi dan kualitas kulit yang lebih signifikan,” jelas dr. Ruri.
Dalam sesi tersebut juga dibahas bagaimana perkembangan teknologi dan inovasi formulasi kini berperan penting dalam mendukung efektivitas perawatan kulit.
Baca juga: Survei: Ngopi sambil Melamun Jadi Hobi Baru Perempuan, Ternyata Ini Alasannya
Teknologi yang mampu membantu penghantaran bahan aktif secara lebih optimal dinilai menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan terapi, terutama untuk kasus pigmentasi yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Meski demikian, dr. Ruri menekankan bahwa tidak ada satu solusi yang bisa diterapkan untuk semua pasien.
Setiap kasus memiliki karakteristik, penyebab, dan respons terapi yang berbeda sehingga membutuhkan evaluasi yang tepat sebelum menentukan strategi perawatan.
Menurutnya, kemampuan mengidentifikasi penyebab hiperpigmentasi, memahami kondisi kulit pasien, serta mengombinasikan berbagai pendekatan terapi menjadi kunci penting dalam mencapai hasil yang optimal.
Baca juga: Berbeda dari Jerawat Biasa, Kenali Penyebab dan Pengobatan Fungal Acne
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang estetika, para praktisi juga dituntut untuk terus memperbarui wawasan dan mempertajam pertimbangan klinis.
Dengan pendekatan yang lebih personal dan terukur, penanganan hiperpigmentasi diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih efektif sekaligus berkelanjutan bagi pasien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release