Ilustrasi berat badan turun (Unsplash/I yunmai)
INDOZONE.ID - Penelitian terbaru dari Stanford Medicine mengungkap, alasan kenapa obat populer penurun gula darah dan berat badan seperti Ozempic dan Wegovy, tidak memberikan hasil optimal pada sebagian pasien.
Temuan tersebut menunjukkan, sekitar 10 persen populasi memiliki variasi genetik tertentu, yang membuat tubuh mereka kurang responsif terhadap obat golongan GLP-1 receptor agonist.
DIkutip dari Medical Daily, pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Medicine pada April 2026 ini memberikan pemaparan ilmiah pertama yang jelas, mengenai kenapa sebagian pasien gagal memperoleh manfaat maksimal dari terapi GLP-1, meskipun telah menggunakan obat sesuai anjuran dokter.
Dalam beberapa tahun terakhir, obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic, Wegovy, Mounjaro, dan Zepbound menjadi bagian penting dalam pengobatan diabetes tipe 2 dan obesitas.
Baca juga: 4 Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Berat Badan
Obat ini bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang disebut GLP-1 (glucagon-like peptide-1), yang berperan dalam:
Berkat efektivitasnya, penggunaan obat GLP-1 terus meningkat di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, dokter telah lama mengamati, respons pasien terhadap obat ini sangat bervariasi.
Tim peneliti Stanford menemukan, penyebab utama perbedaan respons tersebut berkaitan dengan variasi pada gen yang disebut PAM (Peptidyl-glycine Alpha-amidating Monooxygenase).
Gen PAM berperan penting dalam mengaktifkan sejumlah hormon peptida, termasuk hormon GLP-1.
Ilustrasi obat penurun berat badan. (freepik.com)
Ketika gen ini tidak berfungsi secara optimal akibat variasi genetik tertentu, hormon GLP-1 memang tetap diproduksi oleh tubuh, tetapi aktivitas biologisnya menjadi berkurang.
Akibatnya, sinyal yang dikirimkan hormon tersebut kepada tubuh menjadi lebih lemah.
Dua variasi gen yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah:
Menurut para peneliti, individu yang membawa variasi gen tersebut, justru memiliki kadar GLP-1 dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan normal. Namun, hormon tersebut tidak bekerja secara efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily