Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 21 JULI 2025 • 10:00 WIB

Warisan Bahari Nusantara: Mengungkap Kentalnya Tradisi Nelayan Bugis, Mandar, dan Bajo

Warisan Bahari Nusantara: Mengungkap Kentalnya Tradisi Nelayan Bugis, Mandar, dan BajoKonvoi festival nelayan suku Mandar di Kabupaten Pinrang. (Foto: Rudi Hartono/Z Creators).

INDOZONE.ID - Di tengah derasnya arus modernisasi, komunitas nelayan di Indonesia, khususnya dari suku Bugis, Mandar, dan Bajo, tetap kokoh mempertahankan tradisi leluhur yang tak lekang oleh waktu.

Kehidupan mereka yang begitu dekat dengan lautan diwarnai oleh berbagai praktik spiritual, seperti Tradisi Tolak Bala, sebuah ritual untuk memohon perlindungan dari mara bahaya serta keberkahan hasil laut.

Selain itu, masyarakat pesisir ini juga secara turun-temurun menggelar upacara peluncuran perahu dan syukuran atas hasil laut yang melimpah.

“Mereka memandang laut sebagai ruang yang penuh misteri dan tak terduga. Oleh karena itu, menjaga hubungan harmonis dengan laut menjadi sangat penting,” jelas Syamsul Bahri, peneliti dari Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PR KSDK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Syamsul menambahkan, suku Bugis, Mandar, dan Bajo dikenal sebagai pelaut ulung yang memiliki peran vital dalam memenuhi kebutuhan ikan nasional. Identitas budaya mereka pun sangat kuat, tercermin dari alat tangkap khas, pola hidup, hingga ritual spiritual yang senantiasa dijalankan.

Meski modernisasi terus bergulir, ketiga komunitas ini tetap berpegang teguh pada warisan maritim mereka. Mereka bukan sekadar mencari nafkah dari laut, melainkan juga menjaga tradisi dan nilai-nilai leluhur yang telah berlangsung selama generasi.

Baca juga: Warisan Tak Lekang Zaman: Singojuruh Rawat Tradisi Lewat Kirab Budaya

Kisah Unik Nelayan dari Tiga Suku Maritim

Warisan Bahari Nusantara: Mengungkap Kentalnya Tradisi Nelayan Bugis, Mandar, dan BajoIlustrasi suku Bajo saat sedang mencari ikan. (Foto: Imran Rosadi)

Nelayan Bugis dikenal memiliki pola aktivitas yang bergantung pada kondisi laut dan musim ikan. Umumnya mereka mulai melaut sejak dini hari hingga pukul 05.00, beristirahat di siang hari, dan kembali menjaring ikan saat sore.

Salah satu alat tangkap khas mereka adalah bagang, struktur tradisional mirip rumah-rumahan yang diturunkan ke dasar laut dengan pemberat. Inovasi lokal seperti bagang rambo juga menunjukkan kecanggihan teknologi perikanan tradisional Bugis. Bagang rambo berukuran besar, dengan panjang sekitar 22 meter dan lebar 4 meter, dilengkapi ratusan lampu pijar untuk menarik ikan.

“Produksi bagang rambo paling pesat ditemukan di Kota Palopo. Saat malam, laut di sekitar kota tampak gemerlap seperti kota terapung,” tutur Syamsul.

Sementara itu, suku Mandar yang mayoritas tinggal di Sulawesi Barat memiliki wilayah laut yang jauh lebih luas dibanding daratan. Tak heran jika masyarakat Mandar sangat menyatu dengan dunia bahari, menjadikan profesi nelayan sebagai mata pencaharian utama.

Uniknya, sebutan nelayan di Mandar disesuaikan dengan alat tangkap yang digunakan, seperti panggae (menggunakan jaring gae) atau parrumpon (menggunakan rumpon).

Gae dan rumpon merupakan alat tangkap yang saling melengkapi. Gae adalah jaring yang digunakan bersama rumpon, yaitu struktur apung tempat ikan berkumpul. Dahulu rumpon terbuat dari bambu, namun kini lebih banyak menggunakan gabus karena bahan bambu semakin sulit didapat. Pelampung, tali penghubung, dan batu pemberat menjadi bagian penting dari rumpon modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Warisan Bahari Nusantara: Mengungkap Kentalnya Tradisi Nelayan Bugis, Mandar, dan Bajo

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!