INDOZONE.ID - Purbalingga, Jawa Tengah memiliki bentuk kesenian tradisional yang disebut Tari Dames. Kesenian ini lahir sekitar tahun 1936, terinspirasi oleh semangat perjuangan perempuan dalam melawan penjajahan.
Nama "Dames" sendiri berasal dari kata “Madams” yang dalam bahasa Belanda berarti perempuan muda, yang kemudian diadaptasi untuk menggambarkan penari perempuan dalam tarian ini.
Dikenal juga sebagai Tari Aplang, tarian ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan pesan dakwah Islam yang tersembunyi dalam syair sholawatnya.
Namun, di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, Tari Dames menghadapi tantangan besar dalam upaya pelestariannya. Lantas, bagaimana tari ini dapat bertahan dan tetap relevan hingga kini?
Baca juga: 7 Tradisi Unik Meriahkan HUT RI ke-80, dari Lomba Sampan Sampai Sepak Bola Durian!
Sejak awal kemunculannya, Tari Dames berperan sebagai media dakwah Islam. Dalam setiap pertunjukannya, syair-syair berbahasa Arab digunakan untuk menyebarkan pesan moral dan religius kepada masyarakat, khususnya di pedesaan.
Tak hanya sebagai hiburan, tari ini menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai agama.
Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, Tari Dames mengalami perubahan fungsi. Di era 1950-an, tarian ini mulai dikenal luas sebagai hiburan tradisional yang tetap mempertahankan nilai spiritualnya.
Pada masa penjajahan, Tari Dames juga sempat dihentikan seiring terjadinya Perang Dunia II, namun kembali bangkit setelah Indonesia merdeka dan mulai diterima sebagai bagian dari budaya lokal yang menghibur.
Baca juga: Remaja Purbalingga Melestarikan Seni Tradisional Melalui Padepokan Wisanggeni
Untuk melestarikan Tari Dames di tengah arus modernisasi, pada tahun 1970, dibentuklah paguyuban seni “Bumbung Asmara”.
Paguyuban ini berperan penting dalam menjaga kelangsungan Tari Dames. Pada akhir 1970-an, minat masyarakat terhadap tari ini sempat mengalami penurunan.
Namun, pada tahun 1980-an, Tari Dames kembali mendapat perhatian besar setelah tampil di televisi nasional seperti TVRI Yogyakarta dan Taman Mini Indonesia Indah.
Momen ini menjadi puncak popularitas Tari Dames, meskip kemudian minat masyarakat pada tari ini kembali menurun pada periode 1990-an hingga 2000-an.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Skripsi