Ilustrasi tradisi ngumbahkeun pusaka (wikipedia).
INDOZONE.ID - Jauh sebelum konsep pelestarian budaya dikenal secara formal, masyarakat Sunda telah memiliki sistem tradisi yang berfungsi menjaga warisan leluhur sekaligus merawat ingatan kolektif.
Salah satu bentuk nyata dari praktik tersebut ialah tradisi ngumbahkeun pusaka, sebuah ritual adat yang mengandung nilai historis, spiritual, dan simbolik yang kuat.
Tradisi ngumbahkeun pusaka berakar pada masa kerajaan-kerajaan Sunda kuno seperti Tarumanegara, Kerajaan Galuh, dan Pajajaran.
Dalam struktur sosial dan politik kerajaan-kerajaan tersebut, pusaka memiliki kedudukan penting.
Baca juga: Membaca Unsur Budaya, Karakteristik, Gaya Hidup Masyarakat Indonesia Timur Lewat Musik Pop Timur
Pusaka tidak hanya berupa senjata seperti keris, kujang, tombak, atau benda logam lainnya, tetapi juga dapat berupa benda-benda simbolik yang dianggap menyimpan nilai sejarah dan kekuatan moral leluhur.
Pusaka dipandang sebagai penanda legitimasi kekuasaan, kesinambungan garis keturunan, serta lambang kehormatan dan tanggung jawab pemiliknya.
Oleh karena itu, keberadaan pusaka harus dijaga, dirawat, dan diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Dari kebutuhan inilah lahir tradisi ngumbahkeun pusaka sebagai bentuk perawatan berkala terhadap benda-benda pusaka tersebut.
Pada masa awal kemunculannya, ngumbahkeun pusaka dipengaruhi oleh sistem kepercayaan animisme dan dinamisme yang berkembang di masyarakat Sunda.
Dalam pandangan ini, alam, manusia, dan roh leluhur diyakini saling terhubung.
Pusaka dipercaya menyimpan energi simbolik sebagai perantara antara generasi masa kini dengan leluhur masa lampau.
Air menjadi unsur utama dalam ritual ngumbahkeun pusaka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Insititut Seni Budaya Bandung