Ilustrasi ngabuburit (Unsplah/yongyuan)
INDOZONE.ID - Istilah “ngabuburit” udah jadi bagian dari kultur sehari-hari masyarakat Indonesia ketika puasa, tapi banyak orang masih bertanya-tanya sebenarnya apa itu ngabuburit, dari mana asalnya, dan kenapa tradisi ini bisa seseru itu.
Ngabuburit bukan sekadar “nongkrong biasa” menjelang buka puasa.
Lebih dari itu, ia adalah gambaran bagaimana budaya, bahasa, dan tradisi lokal bercampur dengan momen spiritual dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia.
Artikel ini bakal kupas tuntas tentang arti, asal-usul, sampai tradisi-tradisi ngabuburit yang bikin Ramadan di Indonesia terasa beda dari negara lain.
Baca juga: Mengenal Kampung Ciptagelar di Jawa Barat, Desa Adat yang Tetap Jaga Tradisi Sejak Abad 14
Dalam bahasa Indonesia modern, ngabuburit sering diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa menjelang adzan Maghrib.
Ini tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kegiatan untuk mengisi sore hari di bulan Ramadan sebelum buka puasa tiba.
Menurut penelitian budaya yang dilakukan, istilah ini berasal dari bahasa Sunda.
Secara etimologis, asal katanya adalah dari frasa “ngalantung ngadagoan burit” yang artinya bersantai sambil menunggu waktu sore atau Maghrib.
Aktivitas ini kemudian berkembang menjadi kata kerja sehari-hari yang tidak hanya dipakai oleh orang Sunda, tetapi populer di seluruh Indonesia.
Baca juga: Pola Lantai Tari Saman: Filosofi, Makna, dan Nilai Kekompakan Budaya Aceh
Jadi sederhananya, ngabuburit itu awalnya bukan tren digital atau istilah modern semata.
Ia punya akar budaya lokal yang kemudian dipakai secara luas karena cocok dengan kebiasaan banyak orang ketika berpuasa.
Sejarah ngabuburit cukup unik karena istilah ini menunjukkan bagaimana bahasa dan budaya lokal bisa menyebar ke seluruh negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber