Ilustrasi bukber tema baper (freepik/rawpixel-com)
INDOZONE.ID - Buka puasa bersama atau bukber selama ini identik dengan kebersamaan, silaturahmi, dan kehangatan sosial.
Namun di balik suasana hangat itu, muncul fenomena baru yang makin terasa: kelelahan sosial atau social burnout.
Undangan yang bertubi-tubi, ekspektasi sosial untuk hadir, hingga tekanan tampil “kompak” di media sosial membuat sebagian orang justru merasa terkuras, bukan hanya secara finansial, tetapi juga emosional dan spiritual.
Menurut sosiolog dari Universitas Indonesia, fenomena ini berkaitan erat dengan pergeseran makna praktik keagamaan dalam masyarakat modern.
Bukber, yang awalnya berakar pada nilai spiritual, kini cenderung bergerak ke ranah budaya dan ritual sosial.
Baca juga: Momen Langka Bukber Lintas Agama, Netizen: Ini Baru Toleransi!
Dalam kacamata sosiologi agama, praktik keagamaan tidak hanya dipahami sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai fenomena sosial. Namun, bukber saat ini dinilai semakin jauh dari dimensi spiritualnya.
“Kalau kita bicara bukber, itu lebih lari ke culture daripada spiritualnya itu sendiri. Jadi bukan lagi spiritual, tapi dia lari ke ritual,” ujar Dr. Nadia Yovani M.Si saat diwawancarai Indozone.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada satu agama, tetapi menjadi pola umum dalam kehidupan beragama modern.
Aktivitas keagamaan sering kali dipraktikkan sebagai kebiasaan kolektif yang dilakukan berulang, tanpa selalu diiringi refleksi spiritual yang mendalam.
Dalam sosiologi agama, ada beberapa unsur yang membentuk praktik keagamaan: adanya pemimpin ritual, pemisahan antara yang suci dan tidak suci, keberadaan komunitas, serta struktur makna yang menopang praktik tersebut.
Baca juga: Cara Menolak Ajakan Bukber dengan Elegan Tanpa Bikin Canggung dan Anti Drama!
Ketika praktik seperti bukber lebih didorong oleh kebiasaan sosial daripada kesadaran spiritual, maka batas antara yang sakral dan yang sekadar sosial menjadi kabur.
Secara teologis, berbuka puasa tidak harus dilakukan dalam pertemuan besar. Berbuka bersama keluarga di rumah pun memiliki nilai yang sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara