Tradisi Samenan di Sukabumi (Catur Purna Laras/Z Creators)
INDOZONE.ID - Samenan merupakan tradisi khas masyarakat Sunda yang hingga kini masih terjaga kelestariannya di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.
Tradisi ini menjadi bentuk perayaan unik dan spesial untuk merayakan momen kenaikan kelas maupun kelulusan para siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Sejak dahulu, Samenan telah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat di Sukabumi dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pelaksanaannya, tradisi Samenan biasanya dimulai dengan pawai obor yang digelar pada malam hari. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa, guru, serta orang tua murid yang berjalan bersama sambil membawa obor.
Pawai obor tersebut memiliki makna simbolis sebagai lambang semangat dan doa bagi para siswa yang telah naik kelas atau lulus sekolah. Api obor yang menyala melambangkan harapan agar para siswa terus melangkah maju dengan semangat yang tetap berkobar dalam menempuh pendidikan berikutnya.
Baca juga: Ramadan Datang: Beberapa Tradisi Lokal Daerah di Indonesia Bikin Suasana Semakin Hangat
Setelah pawai obor pada malam hari, rangkaian kegiatan Samenan biasanya dilanjutkan keesokan harinya dengan pawai keliling jalan di wilayah kecamatan. Pawai ini melibatkan para siswa, guru, orang tua, serta masyarakat sekitar yang turut menyaksikan kemeriahannya.
Di wilayah Cisaat, misalnya, perayaan Samenan sering dimeriahkan dengan pawai drumband yang dimainkan oleh siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
Penampilan drumband tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Dengan seragam berwarna-warni dan irama musik yang semarak, para siswa memainkan berbagai alat musik dengan penuh semangat. Penampilan mereka pun kerap menarik perhatian warga yang antusias menonton dan ikut meramaikan acara.
Meski telah menjadi tradisi yang berlangsung cukup lama, pawai Samenan sempat dihentikan sementara ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020 hingga 2022.
Pada masa tersebut, pembatasan kegiatan sosial membuat masyarakat Sukabumi, termasuk di Cisaat, harus menunda pelaksanaan tradisi Samenan demi menjaga kesehatan dan keselamatan bersama.
Namun, setelah kondisi pandemi mulai mereda, tradisi ini kembali digelar sejak 2023 hingga sekarang. Biasanya, pelaksanaan Samenan dilakukan pada bulan Juli yang bertepatan dengan periode kenaikan kelas para siswa di berbagai sekolah di Sukabumi.
Baca juga: 3 Tradisi Warga Malang Menyambut Bulan Ramadan dan Lebaran
Tradisi Samenan tidak hanya sekadar perayaan kenaikan kelas atau kelulusan siswa. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan dan kebanggaan masyarakat setempat.
Bagi para siswa, Samenan memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus berkesan dalam perjalanan pendidikan mereka. Sementara bagi masyarakat, tradisi ini menjadi momen kebersamaan sekaligus hiburan yang selalu dinantikan setiap tahunnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan