Petani muda Klaten saat melakukan tradisi wiwitan. (Edelweis Ratushima/Z Creators)
INDOZONE.ID - Petani muda Klaten bersama Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) menggelar tradisi wiwitan. Kegiatan ini sekaligus untuk menggugah generasi muda agar tidak takut menjadi petani potensial.
Tradisi wiwitan digelar di area pertanian Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Klaten, Selasa (1/4/2026).
Dipandu petani tua, tradisi wiwitan berjalan lancar. Para peserta membawa ubo rampe wiwitan, seperti ingkung, nasi, aneka buah, jajanan pasar, dan lain-lain.
Mereka berjalan ke tengah sawah yang padinya sudah siap dipanen. Setelah doa dibacakan dan dilakukan pemotongan padi secara simbolis oleh petani tua, ubo rampe wiwitan dibagikan di pinggir sawah kepada semua yang hadir.
Dalam satu pincuk daun pisang, terdapat nasi urap, ikan asin, tempe goreng, dan ayam suwir yang dinikmati bersama di pinggir sawah.
Baca juga: Kenduri Ketupat di Padukuhan Kebonsari, Asa Menjaga Tradisi Syawalan Setelah Lebaran
Menurut Risca Maranita, petani muda penggagas kegiatan ini, tradisi wiwitan bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa sekaligus menjadi momen yang tepat untuk mengajak kaum muda agar tidak takut menjadi petani.
Untuk mengatasi hambatan dalam mengolah pertanian, saat ini sudah tersedia berbagai solusi untuk menjaga kesehatan tanah.
“Di tengah arus modernisasi saat ini, tradisi wiwitan sudah jarang dilakukan para petani. Nah, untuk membangkitkan kembali budaya tersebut, kami para petani muda mengadakan tradisi ini,” kata Risca Maranita.
Risca yang memiliki usaha warung kuliner itu menambahkan, awalnya dirinya bukan seorang petani. Namun, karena tertarik dengan dunia pertanian, ia menyewa sawah dan ingin terjun langsung merasakan menjadi petani.
“Di tengah masyarakat beredar informasi bahwa menjadi petani itu sulit, sering gagal panen karena serangan hama atau tanah yang tidak sehat. Sebagai kaum muda, saya merasa tertantang apakah benar informasi tersebut. Karena di zaman sekarang, semua hambatan pertanian bisa kita cari solusinya,” ujar Risca.
Petani muda lainnya, Andreas Philip Afianto yang fokus di Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan), mengatakan pertanian sebaiknya tidak meninggalkan budaya. Salah satunya tradisi wiwitan sebagai wujud syukur kepada alam yang telah memberikan hasil panen kepada petani.
Sebagai Direktur Utama Puskestan, pihaknya ingin memanfaatkan lahan tidur untuk diolah kembali agar dapat menghasilkan dan menjaga ketahanan pangan.
Saat ini, pihaknya telah menggarap 80 hektar lahan tidur di empat kecamatan, yaitu Delanggu, Karanganom, Polanharjo, dan Wonosari. Targetnya mencapai 500 hektar di wilayah Solo Raya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan