Upacara Melasti (Indonesia Kaya)
INDOZONE.ID - Menjelang Hari Raya Nyepi, Bali seakan “berubah wajah”. Dari yang biasanya ramai oleh wisatawan, perlahan atmosfernya menjadi lebih hening, sakral, dan penuh makna. Salah satu tradisi yang paling mencuri perhatian di momen ini adalah upacara Melasti, ritual penting yang menjadi awal perjalanan spiritual umat Hindu sebelum memasuki hari sunyi.
Bagi umat Hindu di Bali, Tahun Baru Saka bukan hanya soal pergantian waktu. Ini adalah momen refleksi diri secara menyeluruh. Lewat Nyepi, setiap orang diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, mengevaluasi diri, sekaligus merancang kehidupan yang lebih baik ke depannya. Namun, sebelum sampai ke tahap itu, ada proses “pembersihan” yang harus dilakukan, dan di sinilah Melasti memegang peran penting.
Upacara Melasti biasanya dilaksanakan sekitar 2 hingga 4 hari sebelum Nyepi. Ritual ini menjadi simbol penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sekaligus membersihkan alam dari energi negatif.
Secara filosofi, Melasti dikenal dengan makna nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta, yaitu menghanyutkan segala kotoran dunia dan mengambil kembali kesucian dari air kehidupan. Konsep ini menegaskan bahwa manusia dan alam harus kembali dalam keadaan bersih sebelum memasuki Tahun Baru Saka.
Baca juga: FOTO: Prosesi Upacara Ngaben Pemuka Agama Hindu di Bali
Salah satu hal unik dari Melasti adalah lokasinya yang selalu berada di sumber air, seperti laut atau danau. Dalam kepercayaan Hindu, air dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus tempat bersemayamnya tirta amerta—air suci yang membawa kemurnian dan keseimbangan.
Karena itu, sepanjang pesisir pantai dan tepian danau di Bali akan dipenuhi oleh umat Hindu yang datang berbondong-bondong untuk melaksanakan ritual ini. Pemandangannya bukan hanya sakral, tetapi juga sangat memukau secara visual.
Masyarakat bali saat melakukan Upacara Melasti. (Indonesia Kaya)
Melasti bukan sekadar berkumpul di tepi air. Ada rangkaian prosesi yang dijalankan dengan penuh khidmat. Setiap rombongan biasanya berasal dari satu banjar atau desa adat, lengkap dengan pakaian sembahyang khas Bali.
Mereka membawa berbagai benda sakral dari pura, seperti arca, pratima, dan pralingga. Benda-benda ini dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi dan perlu disucikan secara berkala.
Sesampainya di lokasi, perlengkapan suci dan sesajen akan ditata di tempat khusus yang menghadap ke arah sumber air. Seluruh umat kemudian duduk bersila, mengikuti jalannya upacara yang dipimpin oleh pemangku.
Prosesi dimulai dengan pemercikan air suci ke seluruh peserta dan benda-benda sakral. Asap dupa yang mengepul menjadi simbol penyucian sekaligus penghubung antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Suasana pun terasa begitu tenang dan khusyuk.
Setelah itu, umat melaksanakan persembahyangan bersama melalui rangkaian panca sembah. Di akhir prosesi, pemangku membagikan tirta untuk diminum serta bija (beras suci) yang ditempelkan di dahi sebagai simbol restu dan perlindungan.
Baca juga: FOTO: Ritual Upacara Melasti di Pantai Petitenget Bali
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com