Rangkaian acara HUT Magelang yang ke-1120. (Rahmat Wibowo/Z Creators)
INDOZONE.ID - Ribuan warga Magelang memadati alun-alun kota untuk mengikuti tradisi tahunan Grebeg Getuk. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke-1120.
Prosesi Grebeg Getuk diawali dengan kirab budaya, dilanjutkan upacara adat, doa bersama, hingga pertunjukan tari kolosal yang memukau. Puncak acara ditandai dengan perebutan gunungan getuk oleh masyarakat yang telah menanti sejak pagi.
Gunungan getuk melambangkan berkah dan kebersamaan. Terdapat dua gunungan utama, yakni gunungan lanang (laki-laki) dan gunungan wadon (perempuan). Keduanya disusun dari ribuan getuk berwarna-warni yang dibentuk menyerupai gunung.
Baca juga: Kerajinan Helm Sepeda di Magelang, Berikut Foto-fotonya
Grebeg Getuk di Magelang. (Rahmat Wibowo/Z Creators)
Bagi masyarakat Magelang, getuk bukan sekadar kudapan, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya. Sejarahnya bermula pada masa penjajahan Jepang, ketika masyarakat memanfaatkan singkong sebagai bahan pangan alternatif pengganti nasi. Dari situlah getuk berkembang hingga menjadi kuliner khas yang melekat kuat dengan kota ini.
Baca juga: Tradisi Lebaran ala Masyarakat Kota Magelang, Halal Bihalal Sampai Seminggu!
Selain dua gunungan utama, terdapat pula 17 gunungan lain yang berasal dari perwakilan 17 kelurahan di Kota Magelang. Gunungan tersebut berisi beragam hasil bumi, jajanan pasar, hingga produk unggulan masing-masing wilayah.
Pemerintah Kota Magelang menetapkan hari jadi kota ini pada 11 April 907 Masehi. Sejarah tersebut tidak lepas dari keberadaan Desa Mantyasih, yang kini dikenal sebagai Kampung Meteseh, sebagai cikal bakal lahirnya Kota Magelang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Langsung