INDOZONE.ID - Masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, mengenal tari perang yang disebut Tari Kabasaran. Tari ini biasa dibawakan oleh prajurit Minahasa setelah dan sebelum berperang.
Tarian Kabasaran dibawakan dengan wajah garang, matanya melotot dan tidak ada senyum sedikit pun saat mereka menari.
Dulu penari Kabasaran harus berasal dari keturunan penari Kabasaran juga. Pasalnya, penari harus menggunakan senjata khusus yang diwariskan secara turun-menurun.
Baca juga: Awa Odori, Tari Inklusif Warisan Dinasti Edo yang Bertahan hingga kini
Senjata warisan ini digunakan saat menari. Penari juga menggunakan kostum yang didominasi warna merah dari kain tenun khas Minahasa.
Dengan perlengkapan pedang dan tombak, para penari seperti seorang tentara yang bersiap tempur untuk menghancurkan musuh.
Gerakan ditampilkan dengan sangat energik yang melambangkan semangat seorang pejuang prajurit, namun tetap dinamis mengikuti arus irama musik.
Di akhir pementasan, biasanya para penari melakukan gerakan-gerakan yang terlihat sedikit lebih ceria, yang bermakna terlepasnya amarah setelah pertempuran usai.
Baca juga: Gebyar Batik Sidoarjo, Ajang Pelestarian Budaya Sekaligus Peningkatan Ekonomi lokal
Asal usul Tari Perang Kabasaran ini merupakan bagian dari Tradisi para Waraney atau Ksatria pada zaman dahulu.
Para Ksatria ini melindungi wanua (kampung) jika musuh muncul dan mengancam kampung. Seiring berjalannya waktu tugas ksatria kian berubah.
Mereka tidak lagi menari untuk berperang, melainkan sebagai bagian dari Tradisi Ritual. Prajurit ini juga sering mendampingi para Tonaas, yaitu pemimpin spiritual dalam upacara adat serta upacara lainnya.
Baca juga: Puasa Tasua dan Asyura 2025: Tradisi Penting di Awal Tahun Baru Islam
Tari Kabasaran dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, Cakalele yang berasal dari kata "saka" artinya bertanding dan "lele" artinya mengejar lompatan, ini menunjukkan betapa ganasnya peperangan itu.
Kedua, Kumoyak yang berasal dari kata "koyak" artinya mengayunkan senjata tajam berupa pedang atau tombak ke atas dan ke bawah untuk menenangkan diri dari rasa amarah setelah peperangan.
Ketiga yaitu Lalaya'an, digambarkan dengan gerakan penari yang menari dengan bebas dan riang, yang menggambarkan melepasnya diri dari rasa amarah karena perang.
Tari Kabasaran menggambarkan kesatuan masyarakat Minahasa dalam memberikan rasa aman terhadap kampungnya dengan segala kekuatan dan tenaga.
Baca juga: Meriahkan 1 Suro, Nelayan Lampon Banyuwangi Gelar Petik Laut Sebagai Sedekah Alam
Dalam perkembangannya, tarian ini digunakan sebagai tarian penyambut pada suatu acara-acara formal, sebagai hiburan dalam pesta adat, serta sebagai objek daya tarik bagi wisatawan dari luar daerah Sulawesi Utara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Ilmiah Mandala Pendidikan