Megengan, Tradisi Selametan Khas Bojonegoro Simbol pertautan Spiritual dan Sosial Jelang Ramadan
INDOZONE.ID - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terasa berbeda.
Warga mulai membersihkan lingkungan, memperbanyak ibadah, hingga menyiapkan tradisi khas yang sudah turun-temurun dijalankan, yakni megengan.
Bagi masyarakat Bojonegoro, megengan identik dengan selamatan atau bancakan. Biasanya warga mengundang tetangga untuk berdoa bersama dan berbagi makanan dalam bentuk berkat.
Tradisi megengan menjadi simbol awal bagi masyarakat untuk menata niat dan memperkuat tekad sebelum menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Baca juga: Kumpulan Peribahasa Jawa Populer dan Maknanya dalam Kehidupan Sehari-hari
Tradisi ini juga menjadi penanda spiritual sekaligus sosial bagi masyarakat dalam menyambut bulan puasa dengan penuh suka cita.
Budayawan asal Bojonegoro, Suyanto yang akrab disapa Yanto Munyuk, menjelaskan bahwa secara etimologis megengan berasal dari kata dasar “megeng” yang dalam bahasa Jawa berarti menahan, mengerem, atau mengendalikan diri.
Kata tersebut kemudian mendapat akhiran “-an” sehingga menjadi megengan.
“Megeng itu artinya ngempet atau menahan diri. Jadi megengan dimaknai sebagai momen mulai berkonsentrasi dan mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadan,” ujar pria yang akrab disapa Pakde Yanto itu.
Menurutnya, makna menahan diri tersebut sangat relevan dengan esensi puasa, yakni mengendalikan hawa nafsu dan memperbanyak amalan.
Baca juga: 4 Permainan Tradisional Indonesia yang Mulai Jarang Dimainkan, Padahal Seru Banget!
Namun, pelaksanaannya kini mengalami sejumlah pergeseran.
“Dulu megengan dilakukan satu hari sebelum puasa, dari rumah ke rumah. Tapi karena jumlah rumah banyak, makanan berkat sering kali tidak termakan karena terlalu banyak. Akhirnya, bentuk pelaksanaannya berubah,” jelasnya.
Kini, tradisi selamatan tidak lagi harus dilakukan serentak sehari sebelum Ramadan. Warga lebih fleksibel menentukan waktu, asalkan nilai sedekah dan kebersamaan tetap terjaga.
Makanan tetap dibagikan kepada tetangga, meski doa bisa dilakukan secara sederhana bersama keluarga di rumah.
Salah satu makanan yang identik dengan megengan adalah apem. Kue berbentuk bulat ini sarat makna simbolik.
Pakde Yanto menuturkan bahwa ada tafsir budaya yang menyebut kata apem berkaitan dengan apen atau amalan kanthi pen, yang berarti mengutamakan amalan.
Baca juga: Beda dari Indonesia! Ini Tradisi Unik Ramadan di Berbagai Negara
“Bentuknya bulat, dicetak satu demi satu. Itu melambangkan tekad yang bulat untuk mengutamakan amalan di bulan Ramadan. Di situlah nilai pesan khas Jawa, menyampaikan makna melalui benda,” tambahnya.
Warga Bojonegoro pun merasakan bahwa tradisi megengan bukan sekadar seremoni, melainkan momentum mempererat hubungan sosial.
Siti Aminah (45), warga Kecamatan Kota Bojonegoro, mengaku setiap tahun tetap membagikan apem dan nasi berkat kepada tetangga.
“Walaupun sekarang tidak harus sehari sebelum puasa, saya tetap berbagi. Rasanya ada yang kurang kalau tidak megengan. Selain sedekah, ini juga bikin hubungan antar tetangga makin akrab,” ujarnya.
Baca juga: Asal-Usul dan Tradisi Ngabuburit di Indonesia
Hal senada disampaikan Ahmad Rifai (38), warga Kecamatan Dander. Ia menilai megengan menjadi pengingat untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba.
“Tradisi ini seperti alarm buat kita. Oh, sebentar lagi puasa. Jadi mulai jaga ucapan, jaga sikap. Apalagi kalau sudah kumpul dan doa bareng, suasananya lebih terasa,” katanya.
Di tengah perubahan zaman, megengan di Bojonegoro tetap bertahan sebagai warisan budaya yang sarat nilai spiritual dan sosial.
Tradisi ini bukan hanya tentang berbagi makanan, tetapi juga tentang menata hati, mempererat silaturahmi, dan menyambut Ramadan dengan tekad yang bulat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan