INDOZONE.ID - Dalam dunia fashion ada tren mode "dopamine dressing" atau berpakaian dengan tujuan meningkatkan suasana hati. Tren ini sempat viral di media sosial, terutama di Instagram dan TikTok. Konsep ini mendorong orang untuk memilih pakaian berdasarkan warna dan gaya yang dapat memicu rasa bahagia, percaya diri, dan semangat.
Apa Itu Dopamine Dressing?
Istilah dopamine dressing berasal dari kata “dopamin,” yakni zat kimia di otak yang berperan dalam menciptakan perasaan senang, motivasi, dan kenikmatan. Tren ini muncul sebagai respons terhadap masa sulit seperti pandemi dan tekanan sosial yang membuat banyak orang mencari kebahagiaan lewat hal-hal sederhana, termasuk dalam berpakaian.
Dengan mengenakan busana berwarna cerah, berpola unik, dan memiliki gaya ekspresif, seseorang dipercaya dapat memicu pelepasan dopamin yang membuat suasana hati lebih baik.
Psikologi Warna dalam Dunia Fashion
Warna memiliki dampak besar terhadap emosi. Misalnya:
-
Kuning: identik dengan kebahagiaan, kehangatan, dan optimisme.
-
Merah: menyimbolkan gairah dan energi.
-
Hijau & Biru: memberikan efek menenangkan dan menyegarkan.
-
Oranye & Fuchsia: membangkitkan semangat dan antusiasme.
Tren ini tidak terbatas pada warna saja. Pola playful seperti motif bunga, garis-garis tegas, hingga desain abstrak juga berperan besar. Semakin ekspresif gaya seseorang, semakin besar potensi ‘ledakan’ dopamin yang dihasilkan.
Baca juga: Desainer Muda dari 10 Negara Tampil di Moscow Fashion Week
Pakaian Sebagai Bentuk Perawatan Diri
Dopamine dressing bukan hanya soal penampilan luar. Banyak orang merasa lebih percaya diri dan produktif saat mengenakan pakaian yang membuat mereka nyaman dan bahagia. Dalam situasi penuh tekanan, berpakaian ceria bisa jadi bentuk kontrol atas emosi dan kondisi mental.
Bahkan, menurut studi terbaru dari Frontiers in Psychology (2023), warna dan gaya pakaian yang dipilih seseorang dapat berkontribusi pada regulasi suasana hati dan persepsi diri. Ini menjadikan dopamine dressing sebagai bagian dari gaya hidup mindful yang memperhatikan kesejahteraan mental.
Dampak pada Industri Fashion
Industri fashion kini menanggapi tren ini secara serius. Banyak brand besar, mulai dari high fashion hingga fashion retail seperti Zara, H&M, hingga desainer lokal, menampilkan koleksi penuh warna cerah dan siluet playful dalam katalog terbarunya. Hashtag #DopamineDressing bahkan sudah mencapai jutaan tayangan di TikTok dan Instagram Reels.
Lebih dari sekadar tren, dopamine dressing telah menjadi bentuk kebebasan berekspresi yang membebaskan generasi muda dari tekanan standar fashion yang seragam.
Baca juga: Julia Fox Tampil dengan Riasan Menor ala Badut di Fashion Trust Awards 2025
Apakah Tren Ini Akan Bertahan?
Meski awalnya viral karena media sosial, banyak ahli mode memprediksi bahwa dopamine dressing akan bertahan lama. Di era post-pandemi dan tekanan digital, cara sederhana untuk memperbaiki mood, seperti berpakaian menyenangkan, jadi salah satu bentuk self-care paling mudah diakses.
Pada akhirnya, dopamine dressing mengajak kita untuk mengenakan pakaian bukan hanya karena stylish, tapi karena membuat kita merasa lebih baik. Ini adalah tentang memilih warna dan gaya yang mencerminkan siapa kita dan suasana hati yang ingin kita ciptakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today, Vogue