Ilustrasi sosial media. (Freepik)
INDOZONE.ID - Zaman sekarang, nge-post di media sosial sudah seperti ritual harian. Upload foto, bikin story, lalu menunggu jumlah “like” dan “view” naik. Tapi, pernah nggak kamu berpikir, kenapa kita bisa deg-degan menunggu notifikasi? Atau kenapa banyak yang merasa sedih atau down kalau postingannya tidak banyak yang lihat atau kasih “like”?
Yuk, kita bahas bagaimana sistem validasi digital lewat “like” dan “view” bisa memengaruhi psikologis kita, kenapa otak bisa sampai “ketagihan” terhadap perhatian itu, dan bagaimana caranya agar kita lebih sadar serta tidak mudah terjebak dalam perasaan tersebut.
Sederhananya, di balik layar media sosial, “like” dan “view” bukan hanya angka biasa. Keduanya menjadi semacam umpan penguatan bagi otak kita. Misalnya, saat kamu mendapatkan banyak “like,” otak langsung merespons, “oke, ini diterima,” dan kamu pun merasa senang. Jika hal itu terjadi terus-menerus, terbentuklah semacam loop penguatan yang membuat kita ingin terus mendapatkan “like.”
Menurut studi sistematis, umpan sosial online seperti tombol “like” mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan sistem reward, seperti nucleus accumbens (NAcc) dan ventromedial prefrontal cortex (vmPFC).
Penelitian lain yang menggunakan fMRI pada remaja juga menunjukkan bahwa saat mereka melihat postingan dengan banyak “like,” area otak yang terkait dengan reward processing dan social cognition menjadi aktif.
Jadi, otak kita “belajar” bahwa “like” berarti diterima, “view” berarti diperhatikan, dan perhatian membuat kita merasa dihargai.
Baca juga: Asyik Tapi Berisiko: Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja
Karena validasi digital ini menjadi semacam “bonus” yang sering dicari, beberapa efek psikologis bisa muncul, seperti:
Saat postingan mendapat sedikit “like” atau tidak sesuai harapan, sering kali muncul perasaan, “kok nggak ada yang peduli, ya?” atau “kayaknya aku nggak penting.” Studi menunjukkan, remaja yang postingannya sedikit “like” cenderung merasa lebih banyak penolakan emosional dan memiliki pikiran negatif tentang diri sendiri.
Ketika “like” dan “view” dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial, angka yang kecil bisa memunculkan kecemasan. Banyak penelitian populer menyebut tekanan untuk mendapatkan banyak “like” bisa menyebabkan stres, depresi, dan menurunnya kepercayaan diri.
Jika validasi dari luar menjadi sumber utama untuk merasa berharga, saat hal itu tidak terpenuhi, harga diri kita bisa terguncang.
Kembali ke sistem reward otak, setiap notifikasi “like” atau “view” menjadi semacam “sentakan” kecil yang memberi dorongan positif. Lama-kelamaan, hal ini membuat kita makin sering posting, mencari perhatian, dan memeriksa statistik tanpa henti.
Penelitian tentang social media validation menemukan korelasi kuat antara frekuensi mencari validasi digital dan tanda-tanda kecanduan, seperti terus scrolling, cemas saat tidak memegang ponsel, dan sulit fokus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PubMed, Rockandart.org, Utexas.edu