Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 29 JANUARI 2026 • 19:15 WIB

Apakah Kerokan Aman bagi Kesehatan? Ini Fakta Medis di Balik Tradisi Populer

Apakah Kerokan Aman bagi Kesehatan? Ini Fakta Medis di Balik Tradisi PopulerDanilla unggah foto punggung bekas kerokan. (Instagram/@danillariyadi)

INDOZONE.ID - Kerokan sudah menjadi bagian dari hidup banyak orang Indonesia. Dari kamu yang pernah sakit ringan seperti masuk angin sampai yang baru bangun dengan badan pegal setelah kerja atau sekolah, pasti pernah menemukan orang tua atau teman tongkrongan yang mengajak kerokan. Tapi, apakah kerokan itu benar-benar aman dan bermanfaat secara medis, atau hanya tradisi turun-temurun yang dijalani karena sudah “begitu adanya”?

Kali ini, kita akan membahas fakta medis di balik kerokan, alasan kulit berubah warna setelah dikerok, manfaatnya, potensi risikonya, serta apa kata penelitian medis dan pakar internasional tentang praktik ini. Tujuannya agar kamu tidak asal ikut kerokan, tetapi paham apa yang sebenarnya terjadi di tubuh dari sudut pandang kesehatan.

Kerokan Itu Apa, Sebenarnya?

Sebelum membahas apakah kerokan aman atau tidak, kita pahami dulu apa itu kerokan.

Secara tradisional, kerokan adalah kebiasaan menggosok kulit menggunakan benda tumpul, biasanya koin, sendok, atau alat sejenis, di punggung atau bagian tubuh yang terasa tidak enak. Menurut kepercayaan orang tua dulu, tujuannya untuk “mengeluarkan angin” atau mengatasi masuk angin.

Kerokan sebenarnya tidak hanya ada di Indonesia. Di negara lain, praktik serupa dikenal dengan nama gua sha atau scraping therapy. Di China, Vietnam (disebut cao gio), dan beberapa negara Asia lainnya, metode ini juga sudah lama digunakan sebagai pengobatan tradisional.

Jika dilihat dari kacamata sains modern, yang terjadi bukanlah angin keluar dari tubuh. Bekas merah atau ungu setelah kerokan muncul karena pembuluh darah kecil di bawah kulit tertekan hingga sedikit pecah. Bekas inilah yang sering terlihat setelah dikerok.

Dalam dunia medis, kondisi ini disebut petechiae atau ecchymosis, tergantung bentuk dan luasnya. Jadi, itu bukan tanda angin keluar, melainkan reaksi kulit akibat tekanan dan gesekan di permukaannya.

Baca juga: Pro dan Kontra Kerokan: Apakah Efektif Mengatasi Masuk Angin?

Kenapa Banyak Orang Percaya Kerokan Bermanfaat?

Walaupun istilah “masuk angin” tidak dikenal dalam kedokteran Barat, banyak orang merasa lega setelah kerokan. Ada beberapa alasan umum mengapa kerokan tetap populer:

1. Meningkatkan Sirkulasi Lokal

Saat kulit digosok, area tersebut biasanya terasa lebih hangat dan aliran darah ke permukaan meningkat. Ada penelitian kecil yang dipublikasikan di jurnal medis akses terbuka yang menunjukkan bahwa scraping therapy dapat meningkatkan aliran darah lokal dan suhu kulit setelah dilakukan, terutama dalam sekitar 90 menit pertama setelah sesi kerokan.

2. Relaksasi Otot dan Nyeri Berkurang Sementara

Beberapa orang melaporkan otot terasa lebih rileks dan pegal berkurang. Menurut beberapa studi dan ulasan kecil, teknik kerokan atau gua sha dapat membantu mengurangi nyeri leher atau punggung jika dibandingkan dengan terapi panas biasa dalam konteks tertentu.

3. Efek Psikologis dan Sensasi Lega

Sensasi setelah stimulasi di kulit membuat banyak orang merasa “lega banget”. Padahal, yang terjadi bisa jadi lebih ke respons neurosensori dan efek plasebo daripada penyembuhan penyakit yang sesungguhnya.

Apa Kata Penelitian Medis Internasional?

Mari lihat apa kata penelitian medis internasional tentang kerokan atau teknik serupa ini.

Bukti yang Ada Masih Terbatas

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PubMed

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Apakah Kerokan Aman bagi Kesehatan? Ini Fakta Medis di Balik Tradisi Populer

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!