Tinggi badan anak. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh sehat dan mencapai potensi terbaiknya. Karena itu, pemeriksaan kehamilan rutin menjadi langkah penting untuk memantau perkembangan janin sejak dini. Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus pada janin perempuan adalah Sindrom Turner, kelainan kromosom yang terjadi pada sekitar 1 dari 2.000 hingga 2.500 kelahiran.
Sindrom Turner terjadi ketika salah satu dari dua kromosom X hilang atau tidak lengkap. Kondisi ini hanya dialami oleh perempuan dan terjadi secara acak sejak masa pembentukan janin. Sindrom Turner bukan penyakit menular dan bukan pula kondisi yang diwariskan dari orang tua. Kondisi ini juga tidak disebabkan oleh pola makan atau kesalahan selama kehamilan.
Hilangnya kromosom X memengaruhi berbagai fungsi tubuh, terutama pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi. Anak dengan sindrom Turner umumnya memiliki tinggi badan lebih pendek dibanding anak seusianya. Selain itu, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi ovarium sehingga pubertas alami tidak berkembang optimal.
Melansir Mayo Clinic, tanda yang paling umum pada hampir semua anak perempuan, remaja, dan perempuan muda dengan sindrom Turner adalah tubuh pendek dan insufisiensi ovarium akibat kegagalan fungsi ovarium. Kegagalan perkembangan ovarium dapat terjadi sejak lahir atau berkembang secara bertahap selama masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa muda.
Meski begitu, anak dengan sindrom Turner tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dukungan orang tua, deteksi dini, dan pendampingan medis yang tepat menjadi faktor penting agar kualitas hidup anak tetap optimal hingga dewasa.
Baca juga: Tips Meninggikan Badan secara Alami, Dijamin Bantu Kamu Tambah Tinggi
Tanda sindrom Turner sebenarnya sudah bisa muncul sejak janin berada dalam kandungan. Namun, pada banyak kasus, ciri fisiknya baru terlihat saat anak mulai tumbuh dan mengalami keterlambatan pertumbuhan dibanding teman sebayanya.
Pada masa kehamilan, pemeriksaan USG dapat menemukan penumpukan cairan di belakang leher janin atau kelainan pada struktur jantung dan ginjal. Setelah lahir, bayi dengan sindrom Turner juga dapat mengalami pembengkakan pada tangan dan kaki, lipatan kulit yang tampak jelas di leher, serta kelainan jantung bawaan.
Saat memasuki usia anak, pertumbuhan yang sangat lambat menjadi salah satu tanda paling umum. Tinggi badan anak biasanya berada jauh di bawah grafik pertumbuhan normal. Leher dapat tampak lebih lebar dan garis rambut di bagian belakang kepala terlihat lebih rendah.
Memasuki usia remaja, anak perempuan dengan sindrom Turner umumnya tidak mengalami tanda pubertas seperti pertumbuhan payudara atau menstruasi pada usia yang seharusnya. Selain itu, beberapa pasien juga mengalami gangguan pendengaran, masalah penglihatan, bentuk kuku yang tidak normal, hingga sudut siku yang lebih melebar.
Sindrom Turner bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan tubuh. Kondisi ini juga meningkatkan risiko beberapa gangguan kesehatan lain yang perlu dipantau sejak dini.
Penyandang sindrom Turner memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan struktur jantung seperti kelainan katup aorta dan koarktasi aorta. Gangguan fungsi ginjal dan hipotiroidisme juga cukup sering ditemukan.
Selain itu, kekurangan hormon estrogen dapat meningkatkan risiko osteoporosis di kemudian hari. Masalah pada gigi, rahang, pendengaran, dan penglihatan juga perlu diperhatikan secara berkala agar tidak mengganggu kualitas hidup pasien.
Karena itu, pemeriksaan rutin menjadi bagian penting dalam penanganan jangka panjang sindrom Turner. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap berjalan optimal dan komplikasi dapat dicegah sedini mungkin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic