Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 13:45 WIB

Efek Psikologis dari Like dan View: Apakah Otak Kita Sudah Ketagihan Validasi Digital?

Author

Ilustrasi sosial media. (Freepik)

INDOZONE.ID - Zaman sekarang, nge-post di media sosial sudah seperti ritual harian. Upload foto, bikin story, lalu menunggu jumlah “like” dan “view” naik. Tapi, pernah nggak kamu berpikir, kenapa kita bisa deg-degan menunggu notifikasi? Atau kenapa banyak yang merasa sedih atau down kalau postingannya tidak banyak yang lihat atau kasih “like”?

Yuk, kita bahas bagaimana sistem validasi digital lewat “like” dan “view” bisa memengaruhi psikologis kita, kenapa otak bisa sampai “ketagihan” terhadap perhatian itu, dan bagaimana caranya agar kita lebih sadar serta tidak mudah terjebak dalam perasaan tersebut.

Kenapa “Like” dan “View” Bisa Berdampak

Sederhananya, di balik layar media sosial, “like” dan “view” bukan hanya angka biasa. Keduanya menjadi semacam umpan penguatan bagi otak kita. Misalnya, saat kamu mendapatkan banyak “like,” otak langsung merespons, “oke, ini diterima,” dan kamu pun merasa senang. Jika hal itu terjadi terus-menerus, terbentuklah semacam loop penguatan yang membuat kita ingin terus mendapatkan “like.”

Menurut studi sistematis, umpan sosial online seperti tombol “like” mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan sistem reward, seperti nucleus accumbens (NAcc) dan ventromedial prefrontal cortex (vmPFC).

Penelitian lain yang menggunakan fMRI pada remaja juga menunjukkan bahwa saat mereka melihat postingan dengan banyak “like,” area otak yang terkait dengan reward processing dan social cognition menjadi aktif.

Jadi, otak kita “belajar” bahwa “like” berarti diterima, “view” berarti diperhatikan, dan perhatian membuat kita merasa dihargai.

Baca juga: Asyik Tapi Berisiko: Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Efek Psikologis yang Muncul

Karena validasi digital ini menjadi semacam “bonus” yang sering dicari, beberapa efek psikologis bisa muncul, seperti:

1. Perasaan Ditolak atau Kurang Dihargai

Saat postingan mendapat sedikit “like” atau tidak sesuai harapan, sering kali muncul perasaan, “kok nggak ada yang peduli, ya?” atau “kayaknya aku nggak penting.” Studi menunjukkan, remaja yang postingannya sedikit “like” cenderung merasa lebih banyak penolakan emosional dan memiliki pikiran negatif tentang diri sendiri.

2. Kecemasan Sosial dan Rendahnya Harga Diri

Ketika “like” dan “view” dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial, angka yang kecil bisa memunculkan kecemasan. Banyak penelitian populer menyebut tekanan untuk mendapatkan banyak “like” bisa menyebabkan stres, depresi, dan menurunnya kepercayaan diri.

Jika validasi dari luar menjadi sumber utama untuk merasa berharga, saat hal itu tidak terpenuhi, harga diri kita bisa terguncang.

3. Ketergantungan atau “Kecanduan” Validasi Digital

Kembali ke sistem reward otak, setiap notifikasi “like” atau “view” menjadi semacam “sentakan” kecil yang memberi dorongan positif. Lama-kelamaan, hal ini membuat kita makin sering posting, mencari perhatian, dan memeriksa statistik tanpa henti.

Penelitian tentang social media validation menemukan korelasi kuat antara frekuensi mencari validasi digital dan tanda-tanda kecanduan, seperti terus scrolling, cemas saat tidak memegang ponsel, dan sulit fokus.

Mengapa Kita Rentan, Terutama Gen Z

Foto di sosial media. (photo/Ilustrasi/Pexels/cottonbro)

Generasi muda, terutama Gen Z, lebih rentan karena pada masa remaja identitas dan konsep diri sedang dibentuk, sehingga pendapat orang lain terasa sangat penting.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Masa remaja adalah fase di mana penerimaan sosial sangat berpengaruh terhadap konsep diri.
  • Lingkungan media sosial yang menampilkan kebahagiaan dan kesuksesan membuat kita sering membandingkan diri dengan
  • “highlight reel” orang lain.
  • Algoritma dan desain aplikasi yang dirancang agar pengguna terus scroll dan mengecek notifikasi.

Karena “like” dan “view” dianggap sebagai ukuran eksistensi sosial di dunia online, kurangnya perhatian bisa membuat seseorang merasa tidak cukup dihargai.

Apakah Otak Kita Sudah Ketagihan Validasi Digital?

Kemungkinan besar, iya untuk banyak orang. Tidak semua mengalami dampak yang sama, tetapi prosesnya mirip dengan kecanduan ringan: mendapatkan reward (like/view), merasa senang, ingin mengulang, dan kecewa saat tidak mendapatkannya.

Bayangkan skenario ini: “Aku posting foto keren, banyak ‘like’ berarti keren, sedikit ‘like’ berarti nggak keren.” Padahal, angka “like” tidak selalu mencerminkan siapa kita sebenarnya. Namun, otak kita sering “tertipu” oleh sinyal eksternal tersebut.

Dengan kata lain, kita memiliki semacam “alarm validasi digital” jam internal yang terus mengecek “berapa banyak perhatian yang aku dapat hari ini?” Kadang jam itu membuat kita begadang, terus mengecek ponsel, dan gelisah jika hasilnya tidak sesuai harapan.

Validasi digital lewat “like” dan “view” memang punya efek psikologis nyata. Ia bisa membuat kita merasa senang, tapi juga bisa membuat kita merasa buruk.

Baca juga: Validasi di Media Sosial: Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes?

Agar lebih seimbang, cobalah:

  • Kurangi frekuensi mengecek statistik postingan.
  • Alihkan fokus ke aktivitas tanpa “angka” (misalnya ngobrol langsung, olahraga, atau hobi).
  • Ingat, jumlah “like” dan “view” bukan cerminan nilai dirimu yang sebenarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PubMed, Rockandart.org, Utexas.edu

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU