Validasi di Media Sosial Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes. (Sumber: Freepik @freepik)
INDOZONE.ID - Di era digital, media sosial sudah menjadi ruang utama untuk mencari informasi, berbagi cerita, hingga menjalin komunikasi tanpa batas jarak. Dengan beragam fitur menarik, platform ini memudahkan orang mengekspresikan diri lewat tulisan, foto, maupun video yang kemudian mendapat respon dari orang lain. Dari situlah lahir rasa validasi, pengakuan yang bisa membuat seseorang merasa puas, atau justru sebaliknya.
Menurut PsychCentral, validasi terbagi menjadi dua jenis:
Di media sosial, validasi eksternal biasanya tampak dalam bentuk likes, love, komentar, share, retweet, hingga mention. Semakin banyak interaksi yang didapat, semakin besar pula rasa puas yang muncul. Tak heran jika banyak orang kemudian terjebak dalam ketergantungan pada validasi eksternal, karena pengakuannya bisa langsung terlihat lewat angka.
Bentuk Validasi di Media Sosial. (Sumber: Freepik @freepik)
Validasi sebenarnya bersifat afirmatif. Respon positif dari orang lain bisa menjadi bentuk empati dan apresiasi. Namun, jika terlalu fokus pada reaksi orang lain, hal ini dapat menimbulkan kecemasan, rasa rendah diri, bahkan depresi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Akibatnya, sebagian orang lebih sibuk mencari pengakuan eksternal dibanding memahami dan menerima dirinya sendiri.
Baca juga: 9 Tanda Mental Kamu Makin Kuat: Nggak Suka Drama dan Gak Butuh Validasi
Mendapat pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tapi jangan sampai itu jadi kebutuhan utama. Yang paling memahami diri kita adalah diri sendiri. Dengan belajar menerima kelebihan dan kekurangan, kita bisa tumbuh lebih percaya diri sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today, Psychcentral