Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 18 SEPTEMBER 2025 • 16:00 WIB

Validasi di Media Sosial: Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes?

Validasi di Media Sosial: Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes?Validasi di Media Sosial Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes. (Sumber: Freepik @freepik)

INDOZONE.ID - Di era digital, media sosial sudah menjadi ruang utama untuk mencari informasi, berbagi cerita, hingga menjalin komunikasi tanpa batas jarak. Dengan beragam fitur menarik, platform ini memudahkan orang mengekspresikan diri lewat tulisan, foto, maupun video yang kemudian mendapat respon dari orang lain. Dari situlah lahir rasa validasi, pengakuan yang bisa membuat seseorang merasa puas, atau justru sebaliknya.

Apa Itu Validasi?

Menurut PsychCentral, validasi terbagi menjadi dua jenis:

  • Validasi internal, yaitu kemampuan memahami, mengakui, dan menerima emosi maupun pencapaian diri sendiri.
  • Validasi eksternal, yaitu pengakuan yang datang dari orang lain dan memengaruhi cara kita mengelola emosi, membentuk kepribadian, serta membangun hubungan sosial.

Di media sosial, validasi eksternal biasanya tampak dalam bentuk likes, love, komentar, share, retweet, hingga mention. Semakin banyak interaksi yang didapat, semakin besar pula rasa puas yang muncul. Tak heran jika banyak orang kemudian terjebak dalam ketergantungan pada validasi eksternal, karena pengakuannya bisa langsung terlihat lewat angka.

Baca juga: Validasi Saat Berkomunikasi dengan Orang Lain Ternyata Sangat Mudah, Simak Tips , Metode dan Caranya!

Dampak Positif dan Negatif

Validasi di Media Sosial: Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes?Bentuk Validasi di Media Sosial. (Sumber: Freepik @freepik)

Validasi sebenarnya bersifat afirmatif. Respon positif dari orang lain bisa menjadi bentuk empati dan apresiasi. Namun, jika terlalu fokus pada reaksi orang lain, hal ini dapat menimbulkan kecemasan, rasa rendah diri, bahkan depresi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Akibatnya, sebagian orang lebih sibuk mencari pengakuan eksternal dibanding memahami dan menerima dirinya sendiri.

Baca juga: 9 Tanda Mental Kamu Makin Kuat: Nggak Suka Drama dan Gak Butuh Validasi

Cara Mengelola Validasi agar Tetap Sehat

  1. Batasi waktu online. Atur screen time agar tidak terlalu larut dalam dunia digital yang bisa memicu kecemasan.
  2. Pertimbangkan konsekuensi. Pikirkan dulu alasan sebelum membagikan sesuatu, termasuk respon apa yang diharapkan.
  3. Jangan jadikan respon orang lain tolok ukur. Ukur kepuasan dari pencapaian pribadi, bukan jumlah likes atau komentar.
  4. Kurangi membandingkan diri. Fokus pada kemampuan dan kelebihan diri sendiri alih-alih standar orang lain.
  5. Lakukan self-talk. Tulis jurnal atau catatan pribadi untuk membantu merefleksikan emosi dan pencapaian.
  6. Cari kegiatan di luar media sosial. Olahraga, membaca, melukis, atau menonton bisa membantu menjaga keseimbangan emosi.
  7. Utamakan interaksi tatap muka. Curhat ke orang terdekat atau profesional lebih menyehatkan dibanding oversharing di media sosial.

Mendapat pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tapi jangan sampai itu jadi kebutuhan utama. Yang paling memahami diri kita adalah diri sendiri. Dengan belajar menerima kelebihan dan kekurangan, kita bisa tumbuh lebih percaya diri sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today, Psychcentral

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Validasi di Media Sosial: Butuh Didengar atau Cuma Cari Likes?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!