INDOZONE.ID - Obesitas tidak hanya berkaitan dengan berat badan berlebih, tetapi juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius, termasuk gangguan hormon dan sistem reproduksi. Kondisi ini bahkan telah dikategorikan sebagai penyakit kronis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika menjelaskan, obesitas dapat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan, sehingga meningkatkan risiko gangguan reproduksi.
“Obesitas itu banyak banget kaitannya dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas,” kata Vardian di Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, perempuan perlu lebih waspada terhadap obesitas karena kondisi ini dapat berdampak langsung pada kesehatan reproduksi dan kesuburan.
Obesitas Bisa Memicu Gangguan Hormon dan Fertilitas
Vardian mengatakan risiko kesehatan akibat obesitas akan semakin meningkat ketika perempuan memasuki fase perimenopause, yakni sekitar usia 45 hingga 50 tahun. Pada fase tersebut, kadar hormon mulai menurun sehingga tubuh lebih rentan mengalami berbagai penyakit.
Ia juga menekankan bahwa banyak orang masih salah memahami definisi obesitas. Selama ini, sebagian besar masyarakat hanya berpatokan pada berat badan atau indeks massa tubuh (BMI).
Baca juga: Gak Heran Kalau Orang Jakarta Banyak yang Diabetes dan Obesitas, Ternyata Ini Pemicunya!
Padahal, BMI tidak selalu mampu menggambarkan komposisi tubuh secara menyeluruh.
“Banyak orang yang kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika dicek lingkar perutnya atau perbandingan lingkar tubuh, ternyata kadar lemaknya sudah tinggi dan masuk kategori obesitas,” ujarnya.
Risiko Penyakit Serius Akibat Obesitas
Menurut Vardian, WHO sejak 2022 telah menegaskan obesitas sebagai penyakit kronis karena sering disertai berbagai penyakit lain.
Obesitas dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan, di antaranya:
- Penyakit jantung dan gagal jantung
- Stroke
- Diabetes tipe 2
- Fatty liver yang dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati
- Sleep apnea atau henti napas saat tidur
- Demensia dan Alzheimer
- Batu empedu
- Penurunan libido akibat perubahan hormon
“Kalau orang dibiarkan obesitas terus-menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer juga meningkat,” kata Vardian.
Ia menambahkan penanganan obesitas tidak bisa dilakukan secara sederhana, hanya dengan mengurangi makan atau berolahraga.
“Penanganannya harus komprehensif, mulai dari perubahan gaya hidup, obat-obatan, hingga tindakan medis seperti operasi bariatrik jika diperlukan,” ujarnya.
Faktor Penyebab Obesitas
Sementara itu, dokter spesialis gizi klinik Diana Suganda, menekankan obesitas merupakan penyakit yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya karena makan berlebihan atau kurang olahraga.
“Obesitas itu sangat kompleks, tidak cuma soal intake dan output saja. Ada banyak faktor multifaktorial,” kata Diana.
Menurutnya, hormon dalam tubuh berperan besar dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Pada sebagian orang, sistem tersebut tidak bekerja dengan normal sehingga seseorang tetap merasa lapar meskipun sudah makan cukup.
Baca juga: Obesitas dan Diabetes Makin Naik: Kenapa Generasi Muda Harus Peduli Sekarang?
Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan berat badan mudah naik kembali setelah berhasil diturunkan.
“Ada semacam ‘memori’ di dalam tubuh yang membuat berat badan mudah kembali naik, termasuk pengaruh hormon dan kapasitas lambung,” ujarnya.
Cara Mencegah Obesitas
Untuk mencegah obesitas, Diana menyarankan masyarakat mulai menerapkan pola makan sadar atau mindful eating, yakni makan dengan memperhatikan kebutuhan dan porsi tubuh.
“Mindful eating itu penting. Saat momen seperti Lebaran atau Natal, boleh saja makan, tapi harus tahu porsinya agar tidak berlebihan,” katanya.
Dengan memahami penyebab obesitas yang kompleks, para ahli menekankan pentingnya pendekatan kesehatan yang lebih menyeluruh agar risiko berbagai penyakit kronis dapat dicegah sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA