Minggu, 17 MEI 2026 • 13:30 WIB

6 dari 10 Anak Muda Urban Pilih Self Diagnosis Pakai ChatGPT saat Sakit, Peneliti Ungkap Bahayanya

Author

Ketua Peneliti sekaligus Pendiri HCC, dr Ray Wagiu Basrowi. (Dewi Kania/Z Creators)

INDOZONE.ID - Ketika sakit, masyarakat dianjurkan untuk berobat ke dokter agar tidak salah diagnosis. Namun faktanya, banyak anak muda yang kini memilih melakukan self diagnosis dengan bantuan ChatGPT.

Fenomena ini semakin sering dijumpai seiring berkembangnya teknologi digital. Dokter hingga tenaga medis lainnya pun menyayangkan hal tersebut karena dikhawatirkan dapat memicu kesalahan pengobatan, sehingga menjadi perhatian serius.

Bahkan, studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan hampir 60 persen anak muda berusia di bawah 39 tahun memilih melakukan self diagnosis saat sakit. Mereka cenderung tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau pergi ke fasilitas kesehatan.

Penelitian ini dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed method dengan melibatkan 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua Peneliti sekaligus Pendiri HCC, dr Ray Wagiu Basrowi mengatakan, fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai perubahan perilaku digital biasa. Menurutnya, self diagnosis kini telah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban yang sangat bergantung pada teknologi.

“Fenomena ini meningkat dan yang ditakuti saat seseorang melakukan self diagnostic itu sudah banyak penelitian bilang hampir 80% pasti salah. Atau pasti tidak tepat, atau pasti tidak akurat. Apalagi kalau menggunakan algoritma. Seperti Chat GPT, seperti semua yang disetir oleh algoritma,” katanya saat memaparkan hasil studi di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

Baca juga: Riset HCC: Anak Muda Urban Kini Lebih Sering Self-Diagnosis Lewat Internet

6 dari 10 Anak Mura Urban Lakukan Self Diagnosis

Mirisnya lagi, studi di WHO juga mengungkap bahwa Indonesia salah satu dari top 5 negara yang melakukan self diagnostic menggunakan telemedicine atau menggunakan digital tool. Bahkan fenomena ini bisa lebih tinggi dari beberapa negara maju.

dr Ray juga menyatakan 6 dari 10 anak muda urban lebih memilih melakukan self diagnosis ketika pertama kali merasakan keluhan kesehatan dan tidak langsung pergi ke dokter. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 40 persen yang akhirnya pergi ke dokter dan 60 persennya memilih untuk tidak berkonsultasi ke tenaga medis.

Menariknya, dari 40 persen yang datang ke dokter itu, setengah di antaranya mengaku sudah memiliki hasil diagnosis sendiri dari ChatGPT. Fenomena ini disebut semakin sering ditemui oleh para tenaga medis, mulai dari dokter layanan primer, dokter spesialis, hingga dokter anak.

“Dan ini sering banget saya denger dari teman-teman saya. Mulai dari dokter layanan primer sampai dokter spesialis, bahkan dokter-dokter anak, itu sekarang mikir, ada ibu yang datang, ‘Dok, anak saya penyakit Kawasaki.’ Dia bawa hasil print self diagnosisnya,” tuturnya. 

Keluhan Penyakit yang Banyak Dialami Masyarakat 

Ilustrasi penyakit GERD. (freepik)

Dalam studi tersebut juga terlihat sejumlah keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat saat sakit. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.

“Dari studi kami menunjukkan bahwa keluhan pernapasan dan kardiovaskuler, pernafasan dan sakit dada, nyeri dada, nyeri lengan, menjalar, sampai di tengkuk, kadang-kadang sakit kepala dan sebagainya, itu adalah keluhan paling sering, yang di atas 40%,” papar dr Ray.

Selain itu, gangguan pernapasan seperti sesak napas dan batuk menjadi keluhan utama yang membuat anak muda urban Indonesia berkonsultasi dengan alat diagnosis digital. Keluhan tersebut kemudian disusul gangguan pencernaan, termasuk GERD, yang juga banyak dicari melalui mesin pencarian.

“Karena seluruh orang Indonesia sekarang, sakit GERD terbukti karena terkontaminasi di pekerjaan kami bahwa, gangguan pencernaan itu seperti nyeri perut, sakit perut, itu keluar dalam mesin pencarian,” ujarnya. 

Sementara itu, untuk keluhan masalah psikologis hanya berada di angka 16 persen. Padahal selama ini banyak anak muda yang selalu concern dengan kesehatan mental, tapi mereka tak banyak yang self diagnosis. 

“Jadi ternyata yang selama ini kita takutnya,  mental health screening, itu jadi dominan di self diagnosis, justru penyakit klinis, yang organik, yang bikin anak muda kita cari tahu sakitnya, bukan masalah mental health,” ungkap dr Ray. 

Dalam penelitiannya, tim HCC juga menemukan bahwa mayoritas anak muda Indonesia masih mengandalkan mesin pencarian dan teknologi berbasis AI untuk mencari tahu kondisi kesehatannya.

“Mereka masih lihat Google, karena apalagi, Google sekarang sudah terkoneksi dengan AI, AI Google kan. Kemudian, ini jadi sumber paling sering, dan sumber pertama. Pake mesin mencari berbasis AI, Chat GPT dan Google,” terangnya.

Baca juga: Hati-hati, Ini dia Bahaya Self Diagnosis yang Kamu Harus Tau!

Dampak Bahaya Self Diagnosis

dr Ray memberi peringatan agar masyarakat tidak lagi sembarangan melakukan self diagnosis, karena bisa memicu berbagai dampak buruk bagi kesehatan. Menurutnya, salah satu risiko terbesar adalah over-diagnosis yang bisa memperburuk kondisi pasien dan tidak mendapat penanganan yang tepat. 

“Bahkan ketika seorang yang sudah megang hasil self diagnosis ke dokter pun, dia tetap punya risiko dua kali untuk mengobati diri sendiri dan dua kali untuk mengabaikan resep dokter. Dan ini bikin kenapa masalah kesehatan terkait self-diagnostic itu menjadi lebih besar,” simpulnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU