ilustrasi perbedaan defisini cantik
INDOZONE.ID - Kita semua mungkin pernah mikir, “Kenapa sih semua orang berlomba-lomba pengen cantik?”
Jika dipikir lagi, definisi cantik itu beda di dunia misalnya tren Korea dan Brazil sangat jauh berbeda.
Di Indonesia sendiri, tren kecantikan juga terus berubah, dari kulit putih glowing sampai tren bibir peachy. Tapi... kenapa ya, keinginan buat tampil menarik itu kayak universal? Yuk, kita kulik pelan-pelan.
Baca juga: Momen Ketika Orang Tua Gen Z Punya Anak Ikutan Pawai HUT RI Ke-80 Tahun
Percaya nggak percaya, jadi cantik itu punya privilege tersendiri. Orang yang dianggap menarik biasanya dapet perlakuan lebih baik, entah di sekolah, tempat kerja, bahkan saat dilayani di toko.
Ini bukan asumsi semata loh...banyak studi yang membuktikan hal ini. Jadi nggak heran kalau banyak yang ngerasa harus "upgrade penampilan" biar lebih dihargai.
Kita hidup di era scroll tanpa henti. Dari TikTok, Instagram, sampai YouTube, wajah-wajah cantik berseliweran tiap hari.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan merasa “Duh, kok gue nggak kayak gitu ya?”
Padahal, yang kita lihat belum tentu nyata. Filter, editan, dan pencahayaan bisa mengubah banyak hal.
Tapi tetap aja, ekspektasi terbentuk. Dan boom, muncullah tekanan buat memenuhi standar kecantikan yang dibentuk layar.
Baca juga: Demi Bisa Terbang Bareng Anak, Pilot Senior Ini Rela Pindah Maskapai dan Jadi Junior
Banyak orang ngerasa lebih percaya diri ketika merasa cantik. Rasanya kayak punya pelindung.
Nggak cuma soal dipuji, tapi juga merasa layak dicintai, diterima, dan dihargai. Kecantikan jadi simbol rasa aman, bukan cuma tampilan luar semata.
Menarik itu relatif. Di Jepang, kulit pucat dan mata besar digemari. Terus di Afrika, tubuh berisi lebih dipandang sebagai simbol kesuburan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discovermagazine.com, Icdo.at, Novomed.com