Ilustrasi anak sakit perut. (Freepik)
INDOZONE.ID – Sakit perut pada anak, sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal dalam beberapa kasus, keluhan tersebut dapat disebabkan mesenteric lymphadenitis.
Penyakit itu merupakan peradangan pada kelenjar getah bening di dalam rongga perut, yang gejalanya kerap menyerupai radang usus buntu.
Mesenteric lymphadenitis, atau dikenal juga sebagai mesenteric adenitis, merupakan kondisi ketika kelenjar getah bening yang berada di jaringan mesenterium mengalami pembengkakan dan peradangan.
Mesenterium adalah selaput tipis yang menghubungkan usus dengan dinding rongga perut. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak dan remaja, terutama setelah mengalami infeksi saluran cerna akibat virus.
Baca juga: Pilihan Makanan untuk Bantu Redakan Sakit Perut Anak, Apa Saja?
Dikutip dari Mayo Clinic, kelenjar getah bening merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh, yang berfungsi membantu melawan infeksi.
Ketika tubuh terserang virus atau bakteri, kelenjar getah bening dapat membengkak sebagai respons terhadap infeksi tersebut.
Pada mesenteric lymphadenitis, pembengkakan terjadi pada kelenjar getah bening yang berada di sekitar usus. Kondisi ini umumnya dipicu infeksi virus pada saluran pencernaan, seperti gastroenteritis atau flu perut.
Meski demikian, penyakit ini juga dapat disebabkan infeksi bakteri, penyakit radang usus, hingga kondisi yang lebih serius seperti limfoma.
Ilustrasi Anak Sakit Perut. (Freepik)
Gejala utama mesenteric lymphadenitis adalah, nyeri pada perut yang sering kali muncul di bagian kanan bawah. Lantaran lokasinya yang mirip dengan radang usus buntu, kondisi ini kerap menimbulkan keraguan saat diagnosis.
Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
Apabila penyebabnya adalah infeksi saluran pencernaan, penderita juga dapat mengalami:
Nyeri perut merupakan keluhan yang cukup umum pada anak. Namun, orang tua perlu segera ke dokter apabila anak mengalami:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic