Ilustrasi terlalu baik. (freepik.com)
INDOZONE.ID - Sejak kecil, kita dibiasakan untuk selalu bersikap baik seperti berbagi, tersenyum, dan menghindari konflik. Tapi kalau kebiasaan ini dibawa terlalu jauh, bahaya terlalu baik adalah kita bisa mengorbankan diri sendiri demi kenyamanan orang lain.
Terlalu baik menurut psikologi sering dikaitkan dengan perilaku people pleaser, yaitu kebiasaan menempatkan kebutuhan orang lain, di atas kebutuhan diri sendiri demi menghindari penolakan atau konflik. Berikut beberapa bahaya terlalu baik.
Ilustrasi orang yang terlalu baik. (freepik.com)
Pernah bilang 'ya' padahal hati dan badanmu udah teriak 'nggak'? Itu tandanya batas dirimu lagi dilanggar. Terus-terusan melakukan ini adalah bahaya terlalu baik yang bisa mengikis rasa hormat pada diri sendiri.
Coba biasakan jeda sebelum jawab. Tanyakan ke diri sendiri, “Aku punya waktu dan tenaga nggak? Ini bakal mengorbankan hal penting lain nggak?”
Kalau jawabannya iya, berarti keputusanmu lebih didorong rasa takut daripada nilai yang kamu pegang.
Baca juga: 6 Tanda Kamu Menjalani Hubungan dengan Orang Narsis, Gimana Cara Menghadapinya?
Negosiasi itu butuh kejelasan, bukan sekadar ramah. Daripada langsung setuju, lebih baik jelaskan batasnya, seperti “Saya bisa kerjakan X, tapi kalau mau Y juga, kita perlu atur ulang waktu atau biayanya.”
Mengatakan “nggak apa-apa” padahal sebenarnya ada masalah, hanya membuat semuanya jalan di tempat. Kalau ingin benar-benar membantu, berikan masukan yang jujur tapi sopan. Gunakan cara Situation-Behavior-Impact untuk menyampaikan masukan secara konstruktif.
Sekali melanggar batas mungkin nggak sengaja, tapi kalau terus terulang, itu sudah jadi pola. Inilah cara menetapkan batasan yang penting, jelaskan batasmu dengan tegas dan tegakkan tanpa rasa bersalah. Ingat, kamu nggak salah punya batas.
Baca juga: 10 Tanda Pria Mulai Kehilangan Ketertarikan pada Pasangannya, Apa Saja?
Ucapan seperti “Kalau kamu peduli, kamu pasti mau” itu bukan kepedulian, tapi manipulasi.
Kalau menghadapi situasi seperti ini, perlambat proses keputusan, dan beri jawaban singkat seperti, “Itu nggak cocok untuk saya” atau “Saya butuh waktu untuk pikir-pikir dulu.”
Diam saja saat hal buruk terjadi bukanlah kebaikan, tapi tanda setuju secara nggak langsung. Ini juga bentuk bahaya terlalu baik dengan menjaga suasana tapi membiarkan hal buruk terus terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Timesofindia.indiatimes.com