Ilustrasi kenaikan jabatan. (freepik)
INDOZONE.ID - Dulu, memiliki kantor pribadi dan jabatan tinggi sering dianggap sebagai lambang kesuksesan. Naik pangkat berarti dihormati, diakui, dan tentunya mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Namun, cara pandang tersebut kini mulai berubah di kalangan anak muda, terutama di Generasi Z atau mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Lantas, apa sebenarnya alasan Gen Z menolak promosi jabatan? Berikut diantaranya.
Ilustrasi pekerja Gen Z (Freepik)
Sebuah survei dari situs pencarian kerja Glassdoor menunjukkan bahwa 68% pekerja Gen Z tidak tertarik pada posisi manajerial, kecuali jika posisi itu menawarkan kenaikan gaji yang signifikan atau jabatan tersebut punya makna yang jelas.
Bagi mereka, menjadi atasan bukan lagi impian utama. Banyak yang merasa bahwa jabatan tinggi justru bisa membawa stres dan tanggung jawab berlebih. Karena itu, prioritas karier Gen Z kini lebih mengarah pada pekerjaan yang stabil, aman, dan seimbang, bukan pada gengsi jabatan.
Tidak heran bila banyak dari mereka lebih memilih bekerja di sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, atau bidang teknis yang dianggap lebih pasti dan minim risiko dibanding dunia korporat yang serba cepat dan kompetitif.
Baca juga: 5 Alasan Gen Z Gak Mau Buru-buru Menikah yang Ternyata Bikin Kagum
Perubahan pola pikir ini juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan teknologi. Gelombang PHK massal di industri teknologi dan keuangan membuat Gen Z sadar bahwa tidak ada pekerjaan yang benar-benar aman.
Selain itu, kemajuan kecerdasan buatan (AI) turut menciptakan ketakutan baru tentang masa depan karier. Banyak yang mempertanyakan, apakah posisi manajerial yang mereka kejar hari ini masih akan ada di masa depan?
Karena itu, alasan Gen Z menolak promosi jabatan bukan karena malas, tapi karena mereka lebih realistis. Mereka ingin bekerja di bidang yang lebih stabil dan memiliki prospek jangka panjang, bukan sekadar mengejar titel yang mudah tergantikan.
Baca juga: Gen Z Rentan Burnout? Cari Tahu Penyebab dan Solusinya Di sini!
Generasi Z dikenal sangat menjunjung work life balance. Mereka tidak ingin mengorbankan waktu pribadi, akhir pekan, atau kesehatan mental hanya demi jabatan yang belum tentu membuat bahagia.
Naik jabatan sering kali menuntut jam kerja lebih panjang dan tekanan lebih besar. Sementara itu, angka burnout di kalangan pekerja muda terus meningkat. Karena itulah, Gen Z lakukan work life balance sebagai cara untuk menjaga diri tetap sehat secara fisik dan mental.
Mereka percaya bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja. Bagi Gen Z, sukses adalah ketika seseorang bisa bekerja dengan tenang, punya waktu untuk diri sendiri, dan tetap merasa bahagia dan bukan sekedar punya jabatan tinggi di kartu nama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Engoo.com