Ilustrasi kesepian (Pexels/Felipe Cespedes)
INDOZONE.ID - Ingat nggak waktu SMA atau kuliah, nongkrong bareng teman itu gampang banget? Ketawa lepas sampai jam sembilan malam pun masih seru, walau badan udah capek. Tapi kenapa ya, setelah umur 25 tahun ke atas, banyak yang bilang sering merasa kesepian? Rasanya ada ruang kosong di hati yang nggak jelas siapa yang mau datang ngisinya.
Mari kita bahas dulu kenapa rasa kesepian sering datang ketika memasuki usia dewasa, sekitar 25 tahun ke atas. Setelah itu, akan dibahas lima cara efektif yang bisa dicoba supaya perasaan “sendiri” nggak terus menghantui, dan justru bisa mulai membangun koneksi yang lebih sehat serta bermakna.
Di usia 25 ke atas, banyak orang sedang masuk fase sibuk: kerja full time, mungkin pindah kota, menghadapi tekanan finansial, sementara teman-teman lama mulai punya kesibukan sendiri. Penelitian global menunjukkan bahwa orang di usia “middle-aged” alias antara muda dan agak tua, sering merasa lebih kesepian karena ada jarak antara kebutuhan sosial dengan kenyataan sehari-hari. Jadi, bukan cuma kamu yang ngerasa “kok nggak seramai dulu lagi,” banyak orang juga merasakannya.
Waktu muda, kita mungkin punya banyak aktivitas sosial, nongkrong terus sama teman. Tapi pas udah dewasa, hubungan itu mulai berubah: teman ada yang menikah, punya anak, pindah rumah, atau sibuk kerja. Padahal, kebutuhan kita untuk tetap “terhubung” nggak hilang. Studi bilang, rasa kesepian sering muncul bukan karena sendirian secara fisik, tapi karena hubungan yang ada terasa kurang bermakna.
Baca juga: Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa Kesepian
Di usia dewasa, banyak orang merasa harus bisa “kuat sendiri” atau “urus diri sendiri,” sampai jarang bilang kalau mereka sebenarnya kesepian. Studi internasional menunjukkan bahwa mengakui rasa kesepian masih dianggap tabu, jadi banyak orang memilih untuk diam.
Waktu masih muda, teman banyak dan aktivitas sosial gampang banget. Tapi setelah usia 25 ke atas, teman mungkin lebih sedikit, meski harapan untuk tetap punya koneksi tetap tinggi. Penelitian bilang, rasa kesepian punya pola “U-shaped”: tinggi saat muda dan tua, sedikit menurun di usia pertengahan, tapi banyak faktor yang bikin rasa itu naik lagi.
Ilustrasi seseorang merasa kesepian. (Unsplash/@keenangrams)
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu mulai nggak perlu semuanya sekaligus, pilih yang paling kamu nyaman dulu.
Kadang kita ogah bilang “aku kesepian” karena merasa harus kuat sendiri. Tapi para ahli bilang, langkah pertama itu menyadari dan mengakui perasaan itu. Begitu sadar, baru deh bisa mulai cari cara. Bisa dicoba tulis di jurnal atau ngomong ke diri sendiri dalam hati: “Oke, aku lagi merasa kesepian sekarang.”
Contohnya, ikut komunitas hobi, olahraga bareng, kelas yoga, atau kegiatan volunteering. Studi internasional bilang, kegiatan seperti ini bisa bantu mengurangi rasa kesepian karena memberi tujuan dan kesempatan dapat teman baru. Pilih aktivitas yang benar-benar kamu suka, biar nyaman dan konsisten.
Baca juga: Fenomena Urban Loneliness: Saat Hidup di Kota Besar Justru Bikin Kesepian
Lebih baik punya satu atau dua hubungan yang berarti daripada banyak “teman main” yang cuma sebatas permukaan.
Coba hubungi teman lama, ngobrol tanpa gadget, atau temui seseorang yang benar-benar bisa dipercaya.
Penelitian menunjukkan, keintiman dan kualitas interaksi sosial jauh lebih penting daripada kuantitas teman.
Di usia dewasa, teman sering sibuk dan kita cepat capek. Jadi, strategi yang bisa dicoba: buat “mini komitmen sosial,” misalnya “setiap Minggu sore minum kopi sama satu teman” atau “sekali seminggu ikut kelas online.”
Menjaga kontak ini bantu tetap merasa connected. Kalau nggak bisa sering tatap muka, panggilan video rutin juga bisa jadi alternatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Sciencedaily.com, Wsj.com