Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 27 OKTOBER 2025 • 15:10 WIB

Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa Kesepian

Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa KesepianIlustrasi digital intimacy vs real connection dan pengaruhnya sama kesepian (Freepik)

INDOZONE.ID - Di zaman digital kayak sekarang, setiap orang bisa terhubung dalam waktu singkat. Dengan buka Insatgram atau TikTok, rasanya kayak lagi dekat banget sama dunia luar.

Namun anehnya, kenapa banyak yang merasa malah makin sepi di tengah semua koneksi itu? Fenomena ini jadi bukti, kalau hubungan digital gak berarti kedekatan di dunia nyata.

Di sini, kita bakal bahas kenapa media sosial nggak bisa sepenuhnya jadi obat buat rasa kesepian. Yuk, scroll langsung ke bawah biar tahu gimana cara menyeimbangkan koneksi virtual dan hubungan di dunia nyata!

Apa Arti Kedekatan Digital (Digital Intimacy)?

Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa KesepianIlustrasi berinteraksi secara virtual. (Pexels/Andrea Piacquadio)

Semakin berkembangnya teknologi, cara kehidupan sosial manusia juga bisa berubah. Saat ini, orang bisa merasa dekat meski jauh secara fisik hanya lewat interaksi dunia maya. Inilah yang disebut digital intimacy atau kedekatan digital.

Menurut Lupton (2017), kedekatan digital adalah cara orang pakai platform online buat berbagi hal. Caranya beragam, mulai dari tukar pikiran sampai perasaan, supaya bisa merasa lebih terhubung, meski nggak ketemu langsung.

Baca juga: Hustle Culture VS Work Life Balance: Pengertian dan Contoh Konkrit Dalam Kehidupan

Hubungan Virtual: Obat atau Pemicu Kesepian?

Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa KesepianIlustrasi ngobrol dengan teman virtual. (freepik)

Menurut Dr. Saul Levin, CEO American Psychiatric Association (APA), teknologi ibarat dua sisi mata uang. Teknologi bisa membantu kita tetap terhubung, tapi kalau dipakai buat melupakan rasa sepi, justru bisa jadi bumerang.

Media sosial mungkin awalnya bisa membangun kepercayaan diri, sampai membentuk koneksi sama banyak orang. Namun, sisi gelapnya tetap ada.

Ini juga diperkuat dengan salah satu studi di Indonesia pada Juli 2025. Ditemukan fakta kalau orang yang menghabiskan 5-6 jam sehari di media sosial tetap merasa terisolasi.

Baca juga: Anxious x Avoidant: Pasangan Romantis yang Nyambung, tapi Hobi Tarik Ulur

Fenomena ini disebut sebagai authenticity–visibility paradox. Makin sering kita tampil online, makin berkurang keaslian diri yang kita tunjukkan.

Jadi intinya, hubungan virtual bisa membantu mengurangi rasa sepi. Namun, kalau isinya cuma interaksi dangkal dan serba pamer, malah bikin seseorang makin kesepian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Zen Care

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa Kesepian

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!