Ilustrasi gempa bumi (Pixabay/jpgfactory)
INDOZONE.ID - Belakangan ini, istilah megathrust kembali ramai diperbincangkan di sosial media.
Meski terdengar menakutkan, memahami apa itu megathrust sebenarnya penting agar masyarakat lebih siap, tenang, dan tidak mudah panik menghadapi informasi soal bencana alam.
Menurut penjelasan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), megathrust adalah zona pertemuan antara lempeng samudra dan lempeng benua.
Di titik ini, dua lempeng besar bumi saling bertabrakan dan menumpuk energi dalam jumlah sangat besar.
Saat tekanan ini akhirnya dilepaskan, terjadilah gempa bumi dahsyat yang berpotensi memicu tsunami besar di wilayah pesisir.
Baca juga: Asal-Usul Fenomena Kopi Pangku Jadi Praktik Prostitusi Terselubung
Indonesia termasuk negara yang paling rawan gempa megathrust di dunia, karena berada di pertemuan tiga lempeng aktif: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Letak geografis ini menjadikan Indonesia ibarat “rumah di atas cincin api”, di mana aktivitas tektonik dan vulkanik terus terjadi di bawah permukaan laut.
BMKG mencatat ada 13 zona megathrust aktif yang tersebar di seluruh Indonesia.
Mulai dari Aceh–Andaman, Nias–Simeulue, Mentawai–Siberut, Enggano, Selat Sunda–Banten, Jawa Barat–Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali–Lombok–Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, hingga Papua.
Beberapa di antaranya disebut sebagai “seismic gap”, yaitu zona yang sudah lama tidak melepaskan energi besar, sehingga potensi gempanya semakin tinggi.
Baca juga: Momen Haru OB Kantor Siapkan Kue Ulang Tahun Ternyata untuk Dirinya Sendiri
Para ahli mengingatkan bahwa gempa megathrust memang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, namun bisa diantisipasi dampaknya.
Karena itu, masyarakat di wilayah rawan diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan tidak abai terhadap sosialisasi kebencanaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber