Ilustrasi kopi pangku (freepik).
INDOZONE.ID - Hai Sobat, di era saat ini kalian pasti tidak asing lagi ketika mendengar istilah "kopi pangku". Atau mungkin masih ada yang belum tahu?
Isitlah tersebut kini kembali populer sejak fenomena tersebut diangkat ke layar lebar dalam film garapan Reza Rahadian.
Fenomena kopi pangku juga pernah diangkat lewat puisi oleh Wiji Thukul, seorang aktivis buruh sekaligus seniman, pada 28 Desember 1996.
Istilah kopi pangku sebenarnya sudah dikenal sejak Abad ke-19.
Baca juga: Momen Haru OB Kantor Siapkan Kue Ulang Tahun Ternyata untuk Dirinya Sendiri
Mulanya, fenomena yang menjadi praktik prostitusi terselubung ini berkembang di daerah pesisir, terutama di sekitar Semarang, Jawa Tengah.
Ada banyak faktor yang membuat kegiatan prostitusi semacam itu berkembang di periode tersebut.
Sistem kolonial pada masa itu melegalkan prostitusi di pelabuhan dan area ramai lainnya.
Sumber-sumber yang menjelaskan praktik legalisasi prostitusi di era kolonial umumnya berasal dari arsip, laporan, dan catatan resmi Pemerintah Hindia Belanda.
Baca juga: 111 Caption Bahasa Inggris tentang Korea, Singkat Aesthetic!
Aktivitas prostitusi kemudian juga sering terjadi di daerah warung kopi remang–remang. Kopi pangku dianggap menjadi sesuatu yang lazim pada masa itu.
Kopi pangku seolah menyamarkan kegiatan prostitusi agar tidak terlalu vulgar.
Sebab, warung kopi lebih mudah diterima bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dalam melakukan proses transaksi kegiatan seksual.
Pada praktiknya, perempuan yang menjadi pelayan tidak hanya menyajikan kopi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Habitus