INDOZONE.ID - Banyak anak muda zaman sekarang sedang merasakan hubungan tanpa status alias situationship, yaitu hubungan yang kita tahu memiliki chemistry, tetapi tidak pernah jelas arahnya. Struktur hubungan seperti ini membuat banyak orang bingung, galau, bahkan menyiksa perasaan sendiri.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Tren situationship dipandang sebagai bagian dari budaya kencan modern yang lebih luas di kalangan generasi muda di seluruh dunia, terutama Gen Z.
Secara sederhana, situationship adalah hubungan romantis antara dua orang yang lebih dari sekadar teman biasa, tetapi tidak memiliki komitmen atau label resmi seperti pacaran. Hubungan ini bisa melibatkan kencan, percakapan intens, serta kedekatan emosional dan fisik, tetapi tetap tidak jelas statusnya.
Dalam kamus internasional, situationship digambarkan sebagai kombinasi antara kata “situational” dan “relationship”, yaitu hubungan romantis yang hadir karena situasi, bukan komitmen.
Di Indonesia, istilah ini sering disebut HTS (Hubungan Tanpa Status). Dalam bahasa Inggris, istilahnya adalah situationship. Hubungan ini lebih dari sekadar “teman tapi mesra”, tetapi belum sampai pada komitmen yang serius.
Baca juga: 5 Hal yang Akan Kamu Sadari Setelah Menjalani HTS Tanpa Closure
Ada beberapa alasan utama mengapa banyak anak muda justru memilih situationship dibandingkan hubungan serius:
Anak muda saat ini, terutama Gen Z, cenderung fokus pada karier, studi, finansial, dan kebebasan pribadi sebelum masuk ke hubungan serius. Bagi mereka, komitmen bisa terasa terlalu berat atau kurang fleksibel.
Banyak yang pernah mengalami patah hati atau trauma emosional. Akibatnya, tidak sedikit yang takut terluka kembali. Situationship terasa lebih aman karena bisa dekat tanpa harus “resmi” berpacaran atau memiliki ikatan khusus.
Aplikasi seperti Tinder, Bumble, atau Hinge membuat koneksi terasa instan dan sering mendorong orang memilih hubungan yang tidak terlalu mengikat. Banyaknya pilihan juga memunculkan istilah FOBO (Fear of Better Options), yaitu ketakutan melewatkan pilihan lain yang dianggap lebih baik jika sudah memilih satu orang.
Situationship menawarkan hubungan yang terasa nyaman dan dekat tanpa tuntutan rencana masa depan yang serius. Bagi sebagian orang, ini selaras dengan gaya hidup yang dinamis, gemar bepergian, dan eksplorasi diri.
Dari luar, situationship memang terdengar menyenangkan. Namun pada kenyataannya, banyak orang akhirnya terbawa perasaan. Kedekatan yang intens tanpa komitmen membuat orang sulit melepaskan diri dari hubungan ini.
Menurut psikolog yang dikutip dari Forbes, ada beberapa alasan mengapa hubungan tanpa status membuat orang bertahan meski tidak jelas tujuannya:
Meski tanpa label, kedua pihak sering merasa “spesial” satu sama lain dan berharap hubungan tersebut berubah menjadi pacaran suatu hari nanti, padahal belum pernah dibicarakan secara jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com, Forbes.com