Ilustrasi ghosting (photo/freepik/diana-grytsku)
INDOZONE.ID - Awalnya intens. Chat dibalas cepat, obrolan nyambung, bahkan sempat ketemu dan merasa “klik”.
Tapi entah kenapa, semua itu berhenti begitu saja. Tidak ada pesan, tidak ada penjelasan. Mendadak menghilang.
Kalau kamu pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai ghosting — dan kejadiannya makin sering di era digital.
Ghosting bukan sekadar tidak membalas chat. Yang lebih menyakitkan justru karena tidak ada penutup.
Tidak ada kejelasan. Tidak ada alasan. Hubungan seakan berhenti di tengah jalan, meninggalkan tanda tanya besar di kepala orang yang ditinggalkan.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Diperkosa Menurut Psikologi dan Maknanya
Berbagai riset menunjukkan ghosting lebih banyak terjadi di kalangan usia muda, terutama laki-laki, dan sangat umum dalam relasi yang dimulai lewat dunia digital seperti aplikasi kencan.
Kemudahan berpindah dari satu orang ke orang lain membuat sebagian orang merasa “tidak wajib” memberi penjelasan saat ingin pergi.
Menariknya, cara seseorang memaknai hubungan juga berpengaruh. Mereka yang percaya hubungan adalah soal “takdir” cenderung lebih mudah menerima ghosting.
Sebaliknya, orang yang memandang hubungan sebagai sesuatu yang perlu diperjuangkan biasanya melihat ghosting sebagai sikap tidak dewasa dan minim empati.
Baca juga: Metode Penelitian Kualitatif: Pengertian, Jenis, dan Contohnya
Alasannya tidak selalu karena tidak tertarik. Dari sisi psikologis, ghosting sering dipicu oleh beberapa hal:
Baca juga: Batas Waktu Sholat Subuh Sampai Jam Berapa? Ini Penjelasan dan Hukumnya!
Tidak selalu. Banyak pelaku ghosting sebenarnya sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com