Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 25 JUNI 2026 • 19:31 WIB

Daftar Lengkap Arah Mata Angin dalam Bahasa Jawa Beserta Sejarahnya

Daftar Lengkap Arah Mata Angin dalam Bahasa Jawa Beserta SejarahnyaIlustrasi seorang wisatawan sedang bertanya arah pada warga lokal di Jogja (Nano Banana/gemini.google.com)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda berlibur ke Daerah Istimewa Yogyakarta atau wilayah Jawa Tengah, lalu tersesat dan bertanya arah kepada warga lokal? Jika iya, kemungkinan besar Anda tidak akan dijawab dengan petunjuk "kiri, kanan, depan, atau belakang." Sebaliknya, masyarakat Jawa umumnya akan merespons menggunakan petunjuk arah mata angin dalam bahasa Jawa seperti ngalor atau ngetan.

Kebiasaan ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang telah membudaya sejak ratusan tahun lalu. Untuk mempermudah navigasi Anda saat berkunjung ke daerah dengan penutur bahasa Jawa, INDOZONE telah merangkum daftar istilah arah mata angin, lengkap dengan tingkatan bahasanya Ngoko dan Krama, serta asal-usul penyebutannya.

Baca juga: 95+ Arane Anake Kewan: Daftar Terlengkap Nama Anak Hewan dalam Bahasa Jawa

8 Arah Mata Angin dalam Bahasa Jawa Ngoko & Krama

Bahasa Jawa memiliki tingkatan kesopanan (unggah-ungguh). Bahasa Ngoko biasanya digunakan untuk komunikasi sehari-hari atau kepada teman sebaya, sedangkan bahasa Krama Alus digunakan untuk berbicara secara formal atau menghormati orang yang lebih tua.

Berikut adalah tabel arah mata angin dalam bahasa Jawa Ngoko dan Krama yang bersumber dari laman Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat:

Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Krama (Alus)
Utara Lor Ler
Timur Wetan/Etan Wetan
Selatan Kidul Kidul
Barat Kulon Kilen
Timur Laut (Antara Utara & Timur) Lor Wetan Ler Wetan
Tenggara (Antara Timur & Selatan) Kidul Wetan Kidul Wetan
Barat Daya (Antara Selatan & Barat) Kidul Kulon Kidul Kilen
Barat Laut (Antara Barat & Utara) Lor Kulon Ler Kilen

Catatan praktis: Jika Anda ingin mengatakan "pergi ke arah [mata angin]", Anda cukup menambahkan awalan 'ng'. Contohnya: Ngalor (ke utara), Ngetan (ke timur), Ngidul (ke selatan), dan Ngulon (ke barat).

Baca juga: Daftar 100 Kosakata Bahasa Jawa Halus Lengkap dengan Terjemahannya

Mengapa Orang Jawa Suka Menunjukkan Jalan Menggunakan Mata Angin?

Menurut pandangan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), Dr. Sunu Wasono, kebiasaan menggunakan arah kompas saat menunjukkan jalan bukanlah fenomena eksklusif warga Yogyakarta saja, melainkan lazim dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya.

Terdapat alasan kultural dan filosofis yang mendasarinya. Masyarakat Jawa kuno sangat memegang teguh konsep kosmologi Kiblat Papat Lima Pancer (empat arah mata angin dengan satu pusat, yakni diri sendiri). Keempat arah Timur, Barat, Utara, dan Selatan melambangkan keseimbangan elemen alam raya yang melekat pada eksistensi manusia.

Meski generasi muda saat ini mungkin sebagian besar hanya meneruskan kebiasaan setempat tanpa memahami filosofi mendalamnya, kultur menunjukkan arah ini terbukti sangat efektif dan objektif. Menunjuk "kiri/kanan" sangat bergantung pada posisi tubuh seseorang yang menghadap, sementara arah mata angin sifatnya absolut.

Menelusuri Sejarah dan Asal-usul Kata (Etimologi) Arah Mata Angin Jawa

Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana istilah lor, kidul, wetan, dan kulon berasal? Berdasarkan jejak evolusi bahasa dari Proto-Austronesia menuju Jawa Kuno hingga Jawa Modern, penamaan arah mata angin ini ternyata berhubungan erat dengan pergerakan angin muson dan tanda-tanda alam laut agraris.

1. Wetan (Timur)

Istilah Wetan berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa Kuno, yakni "wet" yang memiliki arti "sebab". Hal ini merujuk pada fenomena kemunculan matahari terbit dari ufuk timur sebagai "penyebab terjadinya siang".

Pada era Jawa Tengahan, bunyinya bergeser menjadi Wwetan, dan memengaruhi istilah bahasa Jawa modern wiwitan. Menariknya, dalam bahasa Jawa Kuno juga pernah digunakan kata Timur dari angin Muson Australia, yang hingga kini jejaknya masih ada saat masyarakat Jawa menyebut orang yang masih muda dengan sebutan "isih timur".

Baca juga: Contoh Ucapan Minta Maaf saat Lebaran dalam Bahasa Jawa: Ngoko, Krama, hingga Krama Inggil

2. Lor (Utara)

Sebelum agama Hindu-Buddha masuk membawa kosakata Sanskerta "uttara", masyarakat masa lalu menggunakan istilah LAHUD dari bahasa Proto-Austronesia yang bermakna "laut".

Dalam lidah penutur bahasa Jawa, bunyi huruf 'D' retrofleks di akhir kata memiliki kecenderungan historis bergeser menjadi bunyi 'R' seperti kata padi menjadi pari.

Oleh karena itu, kata Lahud berevolusi menjadi Lahur, lalu menyusut menjadi Laur, hingga akhirnya mantap menjadi Lor dalam bahasa Jawa Modern.

3. Kulon (Barat)

Orang Jawa Kuno menggunakan kata Kulwan untuk mendeskripsikan arah barat. Seiring berjalannya waktu dan evolusi pengucapan masyarakat Nusantara, kata Kulwan perlahan bergeser dan disederhanakan menjadi kata Kulon seperti yang lazim digunakan saat ini.

4. Kidul (Selatan)

Hingga saat ini, akar leksikal yang pasti mengenai perubahan dari arah "daya" pedalaman/bahasa Proto-Austronesia kuno menjadi Kidul untuk wilayah selatan masih terus dikaji oleh para ahli bahasa dan pegiat sejarah bahasa Jawa Kuno.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Daftar Lengkap Arah Mata Angin dalam Bahasa Jawa Beserta Sejarahnya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!