Ilustrasi puasa intermiten. (freepik.com)
INDOZONE.ID - Intermittent fasting atau puasa intermiten menjadi salah satu metode diet yang cukup populer karena dipercaya mampu membantu menurunkan berat badan, mengontrol gula darah, hingga meningkatkan sensitivitas insulin.
Meski memiliki banyak manfaat, intermittent fasting tidak selalu cocok untuk semua orang. Ada sejumlah efek samping yang bisa muncul, terutama saat tubuh masih dalam tahap adaptasi.
Berikut 9 efek samping intermittent fasting yang perlu kamu ketahui sebelum mencobanya.
Baca juga: Hati-hati! Inilah 10 Hal yang Harus Dihindari Saat Diet Puasa Intermiten
Ilustrasi puasa intermiten yang menyebabkan kehilangan otot (Unsplash/Thought Catalog)
Saat tubuh mulai beradaptasi dengan pola makan baru, rasa lapar bisa terasa lebih intens dari biasanya. Hal ini terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan diri dengan pengurangan asupan kalori dalam jangka waktu tertentu. Biasanya, kondisi ini akan berkurang setelah tubuh terbiasa.
Salah satu efek samping yang cukup umum di awal menjalani intermittent fasting adalah sakit kepala. Kondisi ini bisa dipicu oleh penurunan gula darah atau berkurangnya konsumsi kafein bagi yang terbiasa minum kopi secara rutin.
Perubahan pola makan dapat memengaruhi sistem pencernaan. Beberapa orang mungkin mengalami sembelit, diare, mual, atau perut kembung. Asupan makanan tinggi serat saat waktu makan dapat membantu mengurangi gejala ini.
Baca juga: 7 Manfaat Diet Puasa Intermiten yang Sempat Jadi Sorotan Dunia Kesehatan!
Kadar gula darah yang menurun selama puasa dapat membuat sebagian orang menjadi lebih mudah tersinggung, cemas, atau sulit berkonsentrasi. Kondisi ini biasanya bersifat sementara pada masa awal adaptasi.
Kurangnya asupan energi dalam jangka waktu tertentu dapat membuat tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga. Pada beberapa orang, kondisi ini juga bisa diperparah oleh kualitas tidur yang menurun.
Intermittent fasting dapat menyebabkan mulut menjadi lebih kering dan memicu bau tidak sedap. Hal ini terjadi karena penurunan produksi saliva serta proses metabolisme lemak yang menghasilkan keton.
Sebagian orang melaporkan mengalami kesulitan tidur atau kualitas tidur yang menurun saat menjalani intermittent fasting. Perubahan jam makan dan adaptasi metabolisme tubuh menjadi salah satu penyebabnya.
Saat berpuasa, tubuh dapat kehilangan lebih banyak cairan melalui urin. Jika tidak diimbangi dengan asupan air yang cukup, risiko dehidrasi bisa meningkat. Warna urin yang lebih gelap dapat menjadi tanda awalnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Manhattanmentalhealthcounseling.com