Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 05 NOVEMBER 2024 • 11:45 WIB

Kesenjangan Akses Digital Ternyata Berdampak Pada Gaya Parenting Ibu Milenial, Kok Bisa?

Kesenjangan Akses Digital Ternyata Berdampak Pada Gaya Parenting Ibu Milenial, Kok Bisa?Ilustrasi orang tua Gen Z mengasuh anak generasi alfa. (Freepik)

INDOZONE.ID - Media sosial telah mengubah lanskap pengasuhan anak secara drastis, terutama bagi ibu milenial yang berada di kategori ekonomi atas atau Upper Socioeconomic Status (SES).

Di platform seperti Instagram, bermunculan konsep “parenting ideal” yang seringkali terlalu sempurna dan dipoles sedemikian rupa. Konten ini menunjukkan pola pengasuhan yang estetis dan harmonis, dengan anak-anak yang selalu tampil ceria, bermain di lingkungan yang aman, dan menikmati fasilitas terbaik.

Namun, di balik estetika ini, ada realitas yang jauh lebih kompleks, terutama bagi ibu-ibu di SES rendah yang hidup di pedesaan dengan akses terbatas terhadap internet dan informasi parenting modern.

Glorifikasi “Parenting Ideal” di Media Sosial: Tekanan Psikologis bagi Ibu Milenial Upper SES

Kesenjangan Akses Digital Ternyata Berdampak Pada Gaya Parenting Ibu Milenial, Kok Bisa?Ilustrasi ibu dan anak.

Ibu milenial di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya tidak hanya terpapar konten “parenting ideal” setiap hari, tetapi mereka juga aktif mengikuti influencer parenting dan komunitas daring.

Eksposur yang konstan ini menciptakan glorifikasi konsep “ibu ideal” yang sempurna, tanpa cacat, dan nyaris tak mungkin dicapai. Bauer (2023) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa glorifikasi ini dapat memicu kecemasan dan menurunkan harga diri para ibu karena merasa tidak mampu memenuhi standar tinggi tersebut.

Bahkan, mereka sering kali merasa bersaing, baik secara sadar maupun tidak, untuk menampilkan sisi pengasuhan yang terlihat “sempurna” di media sosial, yang pada akhirnya menambah beban psikologis.

Tidak hanya berdampak pada individu, glorifikasi ini juga menciptakan kompetisi antar ibu yang lebih luas, di mana masing-masing berlomba-lomba menunjukkan kehidupan yang lebih ideal.

Munculnya glorifikasi ini seolah mengubah media sosial menjadi “panggung kesempurnaan,” yang mengabaikan realitas kehidupan dan kesulitan pengasuhan sehari-hari.

Apakah ini memberikan manfaat nyata? Mungkin iya, dalam bentuk motivasi untuk menjadi lebih baik, tetapi tekanan berlebih ini pada akhirnya menciptakan ekspektasi yang tidak realistis bagi banyak ibu di Upper SES.

BACA JUGA: 10 Prinsip Parenting yang Baik, Orang Tua Muda Harus Catat

Kesenjangan Digital dan Kesenjangan Pengasuhan di Indonesia

Kesenjangan Akses Digital Ternyata Berdampak Pada Gaya Parenting Ibu Milenial, Kok Bisa?Ilustrasi Media Sosial Membentuk Cara Pikir Gen Z

Di sisi lain, ibu-ibu yang berada di SES rendah, terutama yang tinggal di daerah pedesaan, menghadapi tantangan yang berbeda. Di banyak wilayah pedesaan, akses ke internet terbatas dan literasi digital seringkali masih rendah.

Hal ini menyebabkan ibu-ibu di SES rendah cenderung mengandalkan pola pengasuhan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut penelitian oleh Setyastuti et al. (2020), ibu-ibu di kelompok SES rendah lebih sering mengambil nasihat dari orang tua dan tetangga dibandingkan mencari informasi pengasuhan modern di internet.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Sendiri, Amatan, & Media

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kesenjangan Akses Digital Ternyata Berdampak Pada Gaya Parenting Ibu Milenial, Kok Bisa?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!