Belum lama ini publik dibuat heboh dengan berita seorang wanita aborsi 7 janin yang disimpan di botol minum hingga membusuk di rumah kontrakan Jalan Balangturungan, Daya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan.
Kejadian itu bermula saat pemilik kos melihat kardus berada di dalam kamar kontrakan nomor 3 disewa terduga pelaku wanita berinisial NW. Ketika membersihkan kamar yang disewa pelaku, pemilik kos mencium aroma busuk yang dicurigai dari dalam kardus.
Pemilik kos bersama ketua RT dan warga membuka kardus tersebut, ternyata berisi janin bayi disimpan dalam beberapa botol minum plastik, dengan ditutup rapat menggunakan lakban dan ditutupi baju. Diduga jasad janin sudah dalam keadaan hancur terurai di dalam botol tersebut.
Dilansir Alodokter, aborsi dapat dilakukan untuk mengakhiri kehamilan terkait kondisi tertentu seperti keguguran, kondisi kesehatan ibu yang terancam akibat kehamilan, atau kehamilan yang terjadi karena pemerkosaan.
Aborsi dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan tertentu atau melalui tindakan operasi. Umumnya, aborsi dilakukan pada usia kehamilan di bawah 24 minggu.
Baca juga: Kim Seon Ho Come Back di Medsos Pasca Skandal Aborsi, Tulis Hal Ini untuk Penggemarnya
Dilansir dari situs NHS, aborsi umumnya aman dan kebanyakan wanita tidak akan mengalami masalah apapun. Tapi tentu ada risiko dari prosedur ini, apalagi jika dilakukan terlalu sering.
Berikut ini beberapa risiko aborsi yang harus diketahui sebelum melakukannya.
Risiko ini tergantung pada aborsi apa yang dilakukan, medis atau bedah serta beberapa minggu kehamilan.
Sebelum 14 minggu kehamilan, risiko utama aborsi medis adalah:
Dari 14 minggu kehamilan, risiko utama aborsi medis adalah:
Sebelum 14 minggu kehamilan, risiko utama aborsi bedah adalah:
Setelah 14 minggu kehamilan, risiko utama aborsi bedah adalah:
Meski melakukan aborsi tidak meningkatkan risiko kanker payudara atau masalah kesehatan mental serta tidak mempengaruhi peluang untuk hamil.
Tapi aborsi berdampak pada kesuburan dan kehamilan di masa depan jika kamu mengalami infeksi rahim yang tidak segera diobati. Infeksi dapat menyebar ke saluran tuba dan ovarium, yang dikenal sebagai penyakit radang panggul (PID).
PID dapat meningkatkan risiko infertilitas atau kehamilan ektopik, di mana sel telur menanamkan dirinya di luar rahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: