INDOZONE.ID - Kabar duka datang dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, seekor anak harimau sumatra berjenis kelamin jantan ditemukan mati akibat malnutrisi dan dehidrasi.
Kejadian ini langsung bikin heboh di media sosial dan jadi perbincangan hangat netizen, apalagi status harimau sumatra yang udah langka dan dilindungi.
Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Hartono, anak harimau itu dinyatakan mati pada 1 Juni 2025 pukul 09.00 pagi.
Baca juga: Inspiratif! Wanita di Sumenep Ini Beli Emas Cash Pakai Uang Receh Hasil Nabung Setahun
Hasil nekropsi menunjukkan penyebabnya adalah malnutrisi dan dehidrasi, rekaman CCTV juga memperlihatkan kalau induknya sudah beberapa hari nggak menyusui.
"Jadi, anak harimau yang mati di TMSBK Bukittinggi karena mengalami malanutrisi dan dehidrasi," ujar Hartono, dikutip dari Antara, pada Kamis (3/72025).
Anak harimau ini lahir pada 24 Juni 2025 sekitar pukul 03.00 pagi dan sejak awal sudah ditempatkan satu kandang bersama induknya.
Petugas memutuskan untuk memantau lewat CCTV karena induk harimau nggak bisa didekati. Tapi beberapa hari kemudian, kondisi si induk makin nggak stabil dan terlihat stres. Anak harimau pun sering dipindah-pindah dengan cara digigit.
Kondisi itu bikin tim medis ambil tindakan. Setelah diskusi dengan BKSDA, akhirnya diputuskan anak harimau harus dievakuasi karena sudah dua hari terakhir nggak disusui sama sekali.
"Tim medis berkoordinasi dengan kami BKSDA Sumatera Barat menyatakan bahwa anak harimau harus dievakuasi dari induknya," jelas Hartono.
Setelah dievakuasi, petugas mencoba memberikan susu kambing sebagai pengganti. Tapi upaya itu nggak berhasil menyelamatkannya, anak harimau itu akhirnya mati di usia belum genap seminggu.
Namun yang bikin publik makin kaget, menurut penelusuran BKSDA dan tim medis, anak harimau ini adalah generasi keenam dari induk yang sama dan lima generasi sebelumnya juga mengalami kelainan genetik.
Kematian anak harimau ini bukan cuma bikin sedih, tapi juga bikin banyak pihak refleksi soal perlindungan hewan langka.
Harapannya, ke depan nggak cuma ada pengawasan ketat, tapi juga perbaikan serius dalam manajemen konservasi satwa yang sudah makin langka di alam liar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara