INDOZONE.ID - Banyak orang merasa frustrasi saat menyadari tidak dapat mengingat mimpi yang dialaminya semalam. Meskipun sempat muncul sekilas dalam pikiran, gambar-gambar mimpi itu lenyap sebelum bisa ditangkap dengan jelas. Apa sebenarnya yang terjadi di otak kita saat bermimpi?
Sebuah studi yang dilaporkan dalam Frontiers in Human Neuroscience mencoba menjawab pertanyaan ini dengan merekrut dua kelompok partisipan, masing-masing terdiri dari 18 orang.
Kelompok pertama merupakan mereka yang dapat mengingat mimpinya setiap hari, sementara kelompok kedua tidak memiliki kemampuan serupa.
Baca juga: Kisah Mengharukan Ibu Muda di Tiongkok, Mengemudi Taksi Sambil Rawat Anaknya yang Sakit
Selama percobaan, peserta tidur semalaman di laboratorium sambil menerima rangsangan suara melalui headphone.
National Geographic mencatat bahwa penelitian ini menemukan adanya perbedaan aktivitas otak antara kedua kelompok.
Mereka yang bisa mengingat mimpi menunjukkan waktu sadar yang lebih lama dalam semua tahap tidur dan memiliki reaksi otak yang lebih kuat terhadap suara dari luar.
Baca juga: Gemas Banget! Potret Rizki dan Lestari, Bayi Harimau Sumatera yang Baru Lahir di Kinantan Zoo
Sementara itu, dalam jurnal Science tahun 2019, disebutkan bahwa fase tidur REM memiliki peran penting dalam pembentukan ingatan.
Namun anehnya, selama tidur REM, bagian otak yang menyimpan informasi ke memori jangka panjang malah dinonaktifkan.
“Ini mungkin merupakan efek samping dari konsolidasi memori selama tidur REM,” jelas Deirdre Barrett, peneliti dari Harvard Medical School.
Menurut Barrett, bangun tepat setelah fase REM adalah momen penting untuk mengingat mimpi. Pada saat itu, otak masih menyimpan memori jangka pendek, meskipun hanya sekitar setengah menit.
Baca juga: Kubah Tiup Raksasa di China, Solusi Anti Debu & Bising di Proyek Konstruksi
Jika tidak ada kebangkitan singkat ini, maka mimpi pun hilang begitu saja tanpa sempat masuk ke dalam memori jangka panjang.
Durasi tidur REM tidak tetap sepanjang malam. Awalnya hanya beberapa menit, tetapi mendekati pagi bisa bertahan hingga 20 menit. Fase ini terjadi sekitar setiap 90 menit, dan bertambah lama mendekati akhir tidur.
Fakta menarik lainnya diungkap oleh studi dari National Center for Biotechnology Information, yang menunjukkan bahwa perempuan lebih sering mengingat mimpi dibandingkan laki-laki.
Selain itu, usia juga memengaruhi. Anak-anak mulai bisa mengingat mimpi saat mampu menceritakannya.
Kemampuan itu mencapai puncaknya di usia 20 tahun dan menurun perlahan seiring bertambahnya usia. Perbedaan kepribadian juga berperan.
Baca juga: Unik! Anak Muda Pengangguran di China Sewa Kantor Palsu Demi Merasa Produktif
“Introvert biasanya lebih mampu mengingat mimpi mereka,” ungkap Barrett.
Selain itu, orang yang terbuka terhadap pengalaman baru, menurut American Psychological Association, lebih cenderung menyimpan mimpi karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal tak biasa.
Bagi mereka yang ingin mengingat mimpi, ada cara yang dapat membantu. Leslie Ellis, penulis buku A Clinician’s Guide to Dream Therapy, menyarankan untuk tetap tenang setelah bangun dan membiarkan pikiran terhubung dengan emosi serta gambar dari mimpi yang masih samar.
"Tuliskan segera, dan itu akan ada di sana," kata Ellis. "Kebanyakan orang kehilangan ide kecuali mereka sengaja mencatatnya."
Baca juga: Lee Si Young Hamil Hasil Implan Embrio Tanpa Persetujuan Mantan Suami, Kisahnya Penuh Air Mata!
Ia juga menambahkan bahwa upaya mengingat mimpi dan membiasakan diri dengan dunia mimpi dapat meningkatkan kemampuan otak dalam merekamnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Infobae.com