INDOZONE.ID - Di era serba digital seperti sekarang, banyak orang yang akhirnya pilih curhat sama AI (Artificial Intelligence). Bahkan hal ini jadi dinormalisasi, padahal dampaknya mengerikan.
Gak bisa dipungkiri banyak orang merasa lebih nyaman bercerita ke chatbot seperti ChatGPT atau aplikasi teman virtual, karena mereka merasa didengar tanpa dihakimi. Tapi di balik kenyamanan itu, ternyata ada sisi gelap yang perlu diwaspadai, terutama kalau curhat ke AI sudah berubah jadi kebiasaan yang menggantikan interaksi nyata.
Awalnya Hanya Curhat, Lama-lama Jadi Ketergantungan
Menurut pengalaman beberapa Psikolog, banyak orang yang merasa “nyambung” dengan AI karena selalu diberi respons yang sesuai keinginan mereka. AI akan menjawab dengan lembut, penuh perhatian, dan seolah memahami perasaan kita.
"Kenapa kok orang lebih banyak berani kepada AI? Kita manusia kansebenarnya ingin dimengerti, ketika kita cerita sama si GPT, dia akan mem-feedback dengan baik, padahal kan rangkuman itu nyata sebenarnya ya, karena itu sebenarnya mesin,” ucap Psikolog Irma Gustiana di Jakarta.
Namun di sinilah bahayanya AI tidak benar-benar mengerti, karena ia hanya memproses kata dan pola bahasa. Tapi otak manusia bisa menafsirkannya sebagai bentuk perhatian tulus. Akhirnya, tanpa sadar seseorang bisa jatuh cinta atau bergantung secara emosional pada sesuatu yang sebenarnya tidak hidup.
“Di kehidupan sekarang makanya kenapa orang harus waras nih dan dijaga supaya jangan sampai kita improve terlalu jauh. Karena realitanya kita hidup, harusnya tatap muka, buat cerita dengan yang real sebenarnya,” tambahnya.
Baca juga: Mengatur Batasan dalam Curhat untuk Mempertahankan Keharmonisan Hubungan
Bisa Menyebabkan Distorsi Realitas dan Masalah Mental
Irma mengungkap, ketika seseorang terlalu sering berbicara dengan AI untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya, ia bisa kehilangan batas antara dunia nyata dan dunia digital.
AI tidak punya empati, tidak punya kehidupan, dan tidak bisa memberikan dukungan yang benar-benar menyembuhkan.
Tapi otak yang sudah terbiasa dengan “respons sempurna” dari AI bisa mulai menolak realitas, karena dunia nyata dianggap terlalu keras atau tidak ideal. Ini bisa memicu isolasi sosial, depresi, bahkan delusi hubungan dengan entitas digital.
“Jangan ngobrol sama Chat GPT, karena dia jatuh cinta sama komputer karena merasa direspons sesuatu yang diinginkan, itu dia merespons dengan habit kita ini sangat bahaya dan tidak bisa hidup di dunia nyata,” ujarnya.
Baca juga: Menjaga Komunikasi Sehat dalam Hubungan: Batasan dalam Curhat kepada Pasangan
Curhatlah pada Orang yang Benar
Saran Irma, kalau kamu sedang merasa butuh tempat cerita, AI bukanlah solusi jangka panjang.Lebih baik bicara dengan orang yang benar-benar ada, teman, keluarga, atau profesional seperti psikolog dan konselor.
Meski tidak selalu sempurna, hubungan manusia selalu baik dan ada ruang empati yang nyata dan tidak bisa ditiru oleh mesin.
“Jadi jangan deh, kalau mau curhat sama AI, mending cari tempat yang benar,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara