INDOZONE.ID - Tinggal di kota besar emang kelihatan seru. Ada deretan lampu gemerlap, segudang peluang kerja, sampai gaya hidup yang dinamis.
Namun, siapa sangka kalau hiruk pikuk itu juga punya sisi gelap yang jarang dibicarakan, yaitu kesepian. Istilah ‘urban loneliness’ akhirnya jadi kata yang bisa menggambarkan sisi rapuh hidup di kota.
Di tengah keramaian dan orang berlalu-lalang setiap hari, banyak yang justru merasa sendiri dan kesepian. Agak ironis, tapi ini emang nyata.
Nah, di sini kita bakal bedah lebih dalam arti urban loneliness, kenapa itu bisa terjadi, dan cara menyikapinya. Langsung scroll ke bawah ya!
Arti Urban Loneliness
Dilansir dari The Free Express Journal, Kamna Chhibber seorang Kepala Departemen Kesehatan Mental, bilang kalau urban loneliness udah jadi realita yang makin sering terjadi.
Menurutnya, rasa sepi di kota biasanya muncul karena seseorang merasa terputus dari dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka merasa harus menghadapi hal sendirian tanpa dukungan orang terdekat.
Padahal, kalau hidup di kota padat dengan banyak orang, seharusnya bikin kita punya banyak teman. Namun nyatanya nggak begitu.
Rutinitas yang padat dan gaya hidup serba cepat bikin justru hubungan antarorang jadi dangkal. Akibatnya, jarang ada interaksi yang benar-benar berarti.
Bahkan, banyak dari kita nggak kenal sama tetangga sendiri, padahal tiap hari lewat depan rumah mereka. Hidup di kota justru bisa bikin mereka makin merasa kesepian di tengah keramaian.
Baca juga: Hustle Culture VS Work Life Balance: Pengertian dan Contoh Konkrit Dalam Kehidupan
Kenapa Kesepian Rentan Terjadi di Kota Besar?
Orang Datang dan Pergi
Kota besar biasanya dipenuhi sama pendatang. Jadi, wajar kalau banyak orang merasa nggak punya tempat yang benar-benar mereka sebut rumah.
Anak muda juga sering pindah setelah beberapa tahun buat tinggal di pinggiran kota. Kalau orang-orang di sekitar kita terus ganti, ya susah juga buat punya lingkar pertemanan yang solid dan awet.
Baca juga: 7 Tanda Kamu Lagi Pacaran sama Tipe Avoidant, si Ahli Tarik Ulur Emosi
Ketergantungan sama Teknologi
Banyak orang kota hidup sendirian dan belum menikah. Akibatnya, mereka makin bergantung pada teknologi buat mengusir sepi.
Niat awalnya bisa aja mereka mau mencari teman atau nambah relasi lewat medsos. Akan tetapi, lama-lama interaksi digital malah menggantikan hubungan nyata.
Sibuk Kerja, Lupa Hidup
Biaya hidup di kota besar itu tinggi banget. Supaya bisa bertahan, banyak orang harus kerja lembur atau punya pekerjaan sampingan.
Alhasil, waktu buat bersosialisasi hampir nggak ada. Semua orang sibuk mengejar karier dan ini kadang yang bikin stres.
Terlalu Sopan sampai Jadi Dingin
Perilaku ini disebut sebagai negative politeness. Orang kota cenderung menghindari basa-basi kecil. Mereka takut dianggap mengganggu privasi orang lain, jadi akhirnya cuma diam aja. Bahkan, buat menyapa atau sekedar ramah ke orang di sekitar aja sering ragu.
Desain Kota yang Bikin Terasing
Gedung tinggi bisa bikin orang merasa asing dan depresi. Sementara perumahan padat dengan ekonomi menengah ke bawah sering bikin penghuninya merasa beda dan terpisah dari warga kota lainnya.
Otak Manusia Nggak Didesain untuk Kesepian
Faktanya, manusia adalah makhluk sosial yang awalnya hidup di kelompok kecil kayak keluarga atau suku. Otak kita nggak terbiasa buat terus-menerus dikelilingi ribuan orang tiap hari. Makanya, meski ramai, tetap aja bisa terasa sepi.
Menurut penelitian Holt-Lunstad dkk. (2015), kurangnya hubungan sosial bisa berdampak serius bagi kesehatan. Bahkan, efeknya sama buruk kayak merokok 15 batang rokok per hari.
Cara Melawan Kesepian di Tengah Kota
Untungnya, sekarang mulai banyak gerakan dan komunitas sosial yang berusaha mempererat hubungan antarwarga kota. Dari acara kumpul santai sampai kegiatan sosial, semua ini jadi cara buat orang-orang merasa terhubung lagi.
Lewat momen sederhana kayak ngobrol, berbagi hobi, atau sekadar nongkrong bareng, rasa kebersamaan bisa tumbuh lagi.
Jadi, kesepian di tengah keramaian kota emang bukan hal baru, tapi buka berarti nggak bisa diatasi. Dengan saling membuka diri, sampai terlibat di komunitas sekitar, kita bisa mulai mengikis rasa sepi itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Free Express Journal