INDOZONE.ID - Banyak gen z yang merasa kesepian di era digital sekarang ini. Kesepian tentu saja berkaitan dengan kesehatan mental.
Menteri Kesehatan 2014-2019 sekaligus peneliti dari lembaga Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) Prof. Nila Moeloek mengatakan, tren kesepian dipicu karena berkembangnya dunia digital. Sayangnya beberapa generasi muda tidak mengerti bagaimana cara mengatasinya.
"Di dunia digital ini, banyak orang mengalami kesendirian, karena kita berteman dengan HP. Bangun tidur yang dicari HP dulu, ada apa di WhatsApp, bukannya bersyukur kepada Tuhan. Di meja makan, cucu dan anak saya main HP. Anak-anak temannya HP, bukan teman sebayanya,” katanya di Jakarta.
Baca Juga: Bahaya Kesepian, Mengapa Rasa Sepi Bisa Picu Stroke?
Penggunaan HP yang berlebihan, menurut Prof Nila, juga ada negatifnya. Kehidupan di sosial media juga banyak dampak negatifnya untuk anak.
"Makanya sosial media di bawah umur di Australia itu dilawan. Bayangkan dulu kalau kita makan malam dengan orangtua itu bercerita, di sekolah ngapain aja. Di meja makan tempat kita berkomunikasi dan skrg tidak ada karena orangtua juga sibuk dengan HP," terangnya.
Disebutkannya, untuk menghindari kesepian, belajar usia remaja tetap merupakan individu yang masih perlu bimbingan. Caranya yaitu konsultasi antar sesama tetap harus disiasati ruang lingkup sebagai saluran bercerita saja dan bukan untuk dilakukan.
"Mereka tetap harus dibimbing, dan ini juga merupakan tugas orang tua, keluarga, serta guru di sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Utama Health Collaborative Center (HCC) Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH juga mengakui, di Indonesia seseorang mengalami studi kesepian sedang hingga berat sebanyak 60 persen. Hal ini terjadi karena ruang publik dan sosial tidak terlalu banyak yang inklusif.
"Pada anak menjadi lebih kronis karena di masa sekolah yang aktif dia malah ke kamar mandi dan kantin, menyendiri. Maka ruang publik secara umum perlu diperbaiki," ungkap dr Ray.
Pada kesempatan ini, dr Ray juga mengumumkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh HCC dan Fokus Kesehatan Indonesia (FKI), bersama Yayasan BUMN.
Studi menunjukkan bahwa 34 persen pelajar SMA di Jakarta memiliki indikasi masalah kesehatan mental, dengan 3 dari 10 pelajar sering menunjukkan perilaku marah dan cenderung berkelahi akibat gangguan mental emosional.
Baca Juga: Bahaya Kesepian, Mengapa Rasa Sepi Bisa Picu Stroke?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung