INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu mikir, “Kok anak kecil itu bisa nangis gara-gara hal sepele banget, ya?” Misalnya nggak dapat mainan, sendoknya warnanya beda, atau cuma karena lelah. Santai dulu. Sebab, nangis bagi anak itu bisa jadi bahasa utama mereka untuk bilang, “Aku nggak nyaman,” atau “Aku capek,” padahal buat kita orang dewasa halnya sepele.
Menurut para ahli, tangisan adalah bagian normal dari perkembangan anak.
Dari Mana Asalnya? Yuk Kenali Penyebabnya
Komunikasi dasar dan kebutuhan anak
Di usia bayi sampai balita, anak belum bisa bicara dengan baik. Jadi ketika mereka lapar, ngantuk, kedinginan, capek, nangis adalah cara paling efektif mereka untuk bilang ke orang tua.
Kalau kamu merasa anak menangis terus, coba cek dulu apakah dia sudah makan atau belum, sudah tidur cukup atau belum, atau ada yang bikin dia nggak nyaman (popok basah, terlalu panas, terlalu ramai, dan lain-lain).
Baca juga: Orangtua, Biarkan Anak Kamu Menangis
Sensitivitas tinggi / kepekaan emosi
Beberapa anak memang punya karakter yang lebih “peka” dari yang lain. Mereka bisa merasakan suara, cahaya, suasana, atau bahkan perasaan orang di sekitarnya dengan lebih kuat. Dalam psikologi, tipe seperti ini sering disebut Highly Sensitive Person (HSP).
Karena peka, anak seperti ini gampang capek kalau suasananya terlalu ramai atau bising. Perubahan kecil saja bisa bikin mereka kewalahan. Hal yang bagi kita sepele, seperti sendok yang beda warna, buat mereka bisa jadi masalah besar. Mereka juga biasanya punya empati tinggi, sehingga mudah ikut sedih kalau melihat orang lain sedih, atau cepat khawatir terhadap hal-hal kecil.
Jadi, kalau mereka gampang menangis, bukan berarti manja atau lebay. Itu cuma cara alami mereka beradaptasi dan merespons dunia yang terasa “ramai” dan kadang terlalu kuat buat kepekaan mereka.
Ketika Tangisan Jadi Eksplosi Emosi
Saat anak makin besar, tangisan mereka biasanya bukan cuma soal lapar, ngantuk, atau butuh sesuatu. Mereka bisa menangis karena merasa frustrasi, capek, kecewa, malu, atau takut. Hal-hal yang buat kita terlihat kecil bisa terasa besar banget di dunia mereka.
Contohnya, mainan hilang, permintaannya ditolak, atau temannya tiba-tiba nggak mau main bareng. Buat kita sepele, tapi buat mereka bisa terasa seperti “musibah”. Wajar, karena mereka belum punya kemampuan yang matang untuk mengatur emosi; mengolah sedih, marah, atau kecewa masih sulit buat mereka.
Kadang, tangisan juga muncul sebagai “pelampiasan” ketika mereka kesal atau marah, tetapi belum bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Orang Tua dan Kita Jangan Otomatis Sebut “Cengeng”
Kalau kita buru-buru bilang, “Ah, masa gitu aja nangis?”, itu sebenarnya bisa melukai perasaan anak. Sebab, bagi mereka, menangis itu cara bilang kalau mereka butuh sesuatu, bisa butuh didengar, dipeluk, dimengerti, atau sekadar waktu buat nenangin diri.
Kadang ada juga orang tua atau lingkungan yang membiasakan anak “jangan nangis” dengan harapan anak jadi lebih kuat. Tapi cara itu justru bisa bikin anak merasa emosinya nggak dianggap. Lama-lama mereka terbiasa menahan perasaan sampai stres, dan itu jelas kurang sehat buat perkembangan emosinya.
Cara Bijak Menyikapi Anak yang Mudah Menangis
Kalau kamu orang tua atau sering berinteraksi dengan anak yang sensitif, ada beberapa cara simpel yang bisa bantu mereka lebih nyaman:
- Dengarkan dulu, validasi perasaannya.
Kadang mereka nggak butuh solusi cepat, cukup didengar. Misalnya bilang, “Aku tahu kamu sedih karena mainannya hilang. Wajar kok kecewa.” - Bantu mereka kenali dan atur emosinya.
Ajari teknik dasar seperti napas dalam, berhitung pelan, atau beri waktu istirahat sebentar kalau mulai kewalahan. - Jangan ubah temperamen mereka, bantu regulasinya.
Kalau anak memang sensitif, itu bukan kekurangan. Justru banyak kelebihannya. - Ciptakan lingkungan yang nyaman.
Kurangi suasana yang terlalu ramai atau bising, beri ruang untuk tenang. - Ajak mereka ngobrol setelah tenang.
Biasanya mereka bisa menjelaskan perasaannya setelah emosinya mereda.
Dengan cara-cara ini, anak sensitif bisa tumbuh lebih percaya diri dan mampu memahami emosinya tanpa merasa salah karena menangis.
Baca juga: Saat Anak Menangis Di Pesawat, Para Orang Tua Jangan Panik Dulu
Nangis Itu Bukan Masalah tapi Sinyal
Jadi, jangan buru-buru meremehkan anak yang gampang nangis. Bagi banyak anak terutama yang sensitif, tangisan itu sebenarnya cara mereka ngomong ke dunia (dan ke kita): “Aku butuh bantuan.” Mereka butuh dipahami, ditemani, diberi rasa aman, atau sekadar dipeluk.
Sebagai orang dewasa, tugas kita bukan memaksa mereka berhenti menangis, tapi membantu mereka pelan-pelan memahami emosinya. Ajari bahwa perasaan boleh muncul, boleh diungkapkan, dan bisa diatur tanpa harus meledak.
Kalau proses itu berjalan, anak akan belajar bahwa sedih nggak selalu berakhir dengan tangisan, bisa berubah jadi ketenangan, rasa lega, atau pemahaman baru.
Jadi, kalau kamu punya adik, keponakan, atau anak kecil yang terlihat “gampang mewek”, jangan langsung menghakimi. Bisa jadi mereka cuma punya tingkat kepekaan yang tinggi alias kepekaan level dewa, yang butuh pendampingan, bukan dimarahi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline, Psychologytoday.com