INDOZONE.ID - Pernah nggak sih melihat si kecil cuma mau makan nasi, ayam goreng, atau makanan itu-itu aja? Terus mulai berpikir, “Waduh, anakku picky eater nih”? Tenang, kamu nggak sendiri!
Fenomena picky eater sangat umum terjadi pada balita dan anak kecil. Dan jangan salah, ini nggak selalu karena anak manja atau orang tua kurang tegas. Banyak faktor biologis, psikologis, hingga lingkungan yang membuat anak menjadi pilih-pilih makanan.
Apa Itu Picky Eater? Bukan Cuma Sulit Makan
Picky eater adalah anak yang menolak banyak jenis makanan, baik yang baru maupun yang sudah dikenal. Akibatnya, pilihan makanannya terbatas, dan kadang memengaruhi asupan nutrisi mereka.
Baca juga: 20 Ide Menu Sehat dan Lezat untuk Si Kecil yang 'Picky Eater'
Ciri-ciri anak picky eater biasanya:
- Menolak makanan karena tekstur, warna, bau, atau rasa
- Hanya mau makan beberapa jenis makanan tertentu
- Sulit mencoba makanan baru walau sering ditawarkan
Jadi, ini bukan sekadar anak ngambek. Di baliknya ada proses perkembangan sensorik dan biologis yang membuat mereka pilih-pilih makanan.
1. Sensitivitas Sensorik: Banyak Anak Punya Lidah Super Tajam
Beberapa anak sangat sensitif terhadap rasa, bau, atau tekstur makanan, misalnya:
- Tidak suka tekstur lembek atau berserat
- Bau tertentu langsung bikin eneg
- Rasa yang terlalu “kuat” bikin mulut otomatis menolak
Ini bukan sekadar pilih-pilih, tapi perbedaan dalam sensory processing yang sering menjadi penyebab intrinsik picky eating.
2. Tahap Perkembangan (Food Neophobia dan Toddler Phase)
Balita berada di fase perkembangan cepat dan ingin mengeksplor banyak hal, termasuk rasa makanan. Di fase ini, mereka cenderung takut mencoba makanan baru (food neophobia) atau ingin kontrol atas lingkungannya, termasuk makanan.
Memaksa sering membuat mereka makin menolak. Bukan karena manja, tapi karena otak mereka sedang berkembang.
3. Faktor Genetik: Bisa Turunan!
Riset menunjukkan DNA memengaruhi pola makan anak, terutama rasa dan preferensi makanan. Artinya, beberapa anak memang “bawaan lahir” lebih sensitif terhadap rasa tertentu.
4. Pengalaman Makan Awal yang Mempengaruhi Nanti
Cara makanan diperkenalkan sejak bayi, seperti:
- Waktu perkenalan makanan padat
- Konsistensi dan variasi makanan
- Model makan dari orang tua
Bisa membentuk pola makan anak di masa kecil. Anak yang sering dipaksa makan jenis tertentu bisa jadi lebih menolak nanti.
5. Perilaku Orang Tua dan Lingkungan Meja Makan
Lingkungan makan di rumah juga berperan penting. Faktor risiko meliputi:
- Orang tua terlalu sering memaksa anak makan
- Makan sambil nonton TV atau gadget
- Sering menyediakan makanan berbeda antara anak dan keluarga
- Tidak ada kebiasaan makan bersama
Sebaliknya, keluarga santai, makan bersama, dan orang tua jadi contoh makan sehat, membuat anak lebih terbuka mencoba makanan baru.
6. Masalah Medis atau Kondisi Lain yang Terlewatkan
Picky eating ekstrem bisa menandakan adanya:
- GERD (refluks lambung)
- Masalah pencernaan
- Gangguan makan serius seperti ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder)
- Sensitivitas oral-motor (sulit mengunyah atau menelan)
Jangan langsung menyimpulkan “manja”. Jika perilakunya ekstrem dan mengganggu nutrisi, konsultasi dokter atau ahli gizi penting.
Baca juga: Jangan Emosi Moms, Begini Cara Mengatasi si Picky Eater
Tips Singkat Agar Si Kecil Makin Berani Coba Makanan Baru
- Kenalkan makanan baru berulang kali tanpa paksaan
- Jadikan waktu makan menyenangkan
- Libatkan anak memilih atau menyiapkan makanan
- Makan bersama keluarga sebagai contoh
- Hindari tekanan atau kompromi berlebihan
Perubahan butuh waktu, tapi pemahaman adalah kunci. Picky eater bukan sekadar manja, melainkan perilaku kompleks yang dipengaruhi genetik dan lingkungan. Memahami penyebabnya membuat orang tua lebih tenang dalam menanganinya dan tahu kapan harus minta bantuan profesional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Theguardian.com, PubMed