Jumat, 16 JANUARI 2026 • 11:38 WIB

Nemawashi, Cara Jepang "Menyingkirkan" Pohon untuk Ruang Pembangunan

Author

Ilustrasi Nemawashi (pearllanguage.org). 

INDOZONE.ID - Di banyak negara, menebang pohon menjadi pilihan untuk membuka ruang bagi pembangunan jalan atau infrastruktur lain. 

Namun, Jepang punya pendekatan yang berbeda. Di sana, pohon besar yang berada di jalur pembangunan tidak disingkirkan dengan cara ditebang.

Pohon tersebut justru akan dipindahkan ke lokasi baru. 

Pendekatan ini tidak hanya mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga filosofi budaya yang menghormati alam sebagai bagian esensial kehidupan manusia.

Baca juga: Bertemu Gubernur Maluku Utara, Siswa Keluhkan Guru Jarang Hadir dan Jam Kosong

Filosofi Alam dan Teknologi yang Harmonis

Praktik pemindahan pohon di Jepang bukan sekadar masalah teknik, tetapi juga budaya. 

Dalam tradisi lokal, tanaman dianggap memiliki nilai lebih tinggi daripada sekadar elemen lanskap  terutama pohon tua atau besar. 

Beberapa kepercayaan, seperti ajaran Shinto, memandang pohon sebagai entitas yang memiliki kami atau roh alam. 

Menebang pohon tanpa pertimbangan dianggap merusak hubungan antara manusia dan lingkungan. 

Ini mendorong Jepang untuk mencari solusi yang lebih bijak ketika pembangunan mengancam keberadaan pohon-pohon tersebut.

Baca juga: Rayakan Isra Miraj, Menag Dorong Umat Perkuat Spiritual di Era Modern

Nemawashi: Teknik Kunci dalam Relokasi Pohon

Salah satu istilah yang sering disebut dalam konteks ini adalah Nemawashi, yang secara harfiah berarti “mengelilingi akar.” 

Proses ini melibatkan penanganan akar secara hati-hati jauh sebelum pemindahan fisik dilakukan. 

Dengan begitu, sistem perakaran pohon tetap sehat dan tidak mengalami masalah saat dipindahkan. 

Tahapan ini bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. 

Ahli pohon secara bertahap melonggarkan tanah di sekitar akar, memotong bagian akar tertentu, dan mempersiapkan akar agar siap dipindahkan.

Setelah akar siap, pohon dipindahkan dengan bantuan alat berat seperti derek besar, kayu penguat, atau bahkan roller udara.

Kemudian pohon dipindahkan ke lokasi baru dengan perawatan yang intensif setelah penanaman.

Baca juga: Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Makhluk Hidup

Contoh Nyata Relokasi Pohon di Proyek Besar

Salah satu contoh penerapan dari pendekatan ini adalah proyek urban di Tokyo. 

Ratusan pohon yang terancam oleh pembangunan dipindahkan ke tempat lain agar tetap hidup dan tumbuh. 

Dalam kasus tertentu, jumlah pohon yang dipindahkan, seperti 619 pohon dalam satu proyek redevelopment menunjukkan komitmen kota ini untuk menjaga ruang hijau meski harus membangun dari awal infrastrukturnya.

Relokasi pohon juga dipandang sebagai cara untuk menambah jumlah pohon baru di lokasi lain. 

Sebab, bersama dengan pohon hasil relokasi, seringkali ada program penanaman tambahan untuk urban greening yang lebih meluas.

Baca juga: Jadwal Lengkap Imsakiyah Ramadhan 1447 H untuk Wilayah Jakarta

Harmoni antara Teknologi dan Lingkungan

Metode ini menunjukkan bahwa Jepang tidak melihat pembangunan sebagai perusak lingkungan. 

Dengan perencanaan matang, teknik berkualitas tinggi, dan filosofi yang menghormati alam, mereka dapat menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur dengan pelestarian pohon yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Daripada sekadar memotong dan menebang, Jepang memberikan contoh bagaimana kemajuan teknologi dan penghormatan terhadap alam bisa berjalan berdampingan.

Perspektif ini semakin banyak diperhatikan oleh negara lain yang ingin mendorong pembangunan lebih berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Karmactive.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU